M.5. Unsur-Unsur Dakwah

M.5. Unsur-Unsur DakwahUnsur-unsur dakwah yang paling utama dapat kita pahami di antaranya dari ayat-ayat tentang dakwah.

“Katakanlah [hai Muhammad], ‘Inilah jalan [agama]ku. Aku dan orang-orang yang mengikuti ku mengajak [kamu] kepada Allah atas dasar bashirah [hujjah yang nyata]. Mahasuci Allah, aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Anasir-anasir tersebut tersirat pada lafadz-lafadz yang ada di dalamnya, yaitu:

Qul [katakanlah], mengisyaratkan syari’atud dakwah [legalitas dakwah], yaitu bahwa dakwah merupakan hal yang diperintahkan oleh Allah.

HaadziHii sabili [inilah jalanku], menunjukkan risalah [misi] dakwah yang harus dikerjakan secara baik dan tidak menggunakan jalan lain karena Islam hanya satu, harus diikuti, dan tidak boleh mengikuti jalan lain yang akan menyesatkan.

Ad’u [aku mengajak], menggunakan fi’il mudhari’. Ini memberi petunjuk bahwa dakwah adalah gerak yang berkelanjutan. Tidak ada kata berhenti dalam dakwah. Bergerak mencapai tujuan, bila sudah tercapai, tetap bekerja untuk memelihara dan meningkatkan kualitas-kuantitasnya. Demikian hingga Allah mewarisi bumi ini berikut isinya.

ilallah [kepada Allah], menunjuk tujuan akhir yang benar dalam dakwah yaitu mencapai ridla Allah. Dakwah adalah proyek Allah, maka dakwah harus dimaksudkan untuk mendapat ridla dan balasan hanya dari-Nya. Keuntungan dunia hanya merupakan efek yang betapapun besarnya tetap kecil dibanding pahala dan keridlaan Allah.

‘Alaa bashirah [atas dasar hujjah yang nyata], menunjukkan bahwa dakwah harus didasarkan pada minhaj [pedoman dan konsepsi yang jelas] bukan dogma. Ini penting agar orang menentukan pilihan atas dasar kesadarannya.

Ana [aku], menunjukkan qiyadah [pemimpin] yang tulus ikhlas dalam dakwah, tidak mengharap selain ridla Allah. Rasulullah saw. adalah sebaik-baik referensi, sebaik-baik teladan. Untuk dakwahnya beliau telah mengorbankan segala yang mahal dan berharga, jiwa, harta dan raganya.

Wa manittaba’ani [dan orang-orang ang mengikutiku], menunjuk pendukung dan pasukan yang taat. Dakwah tidak akan dapat mewujudkan tujuannya bila tidak didukung oleh tentaranya yang taat.

– Subhanallah [Mahasuci Allah], menunjukkan dedikasi dan totalitas yang harus diberikan untuk dakwah.

Wa maa ana minal musyrikiin (“Aku tidak termasuk orang yang syirik”), menunjukkan semangat dan target dakwah yaitu tauhid, membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk. Dakwah merupakan perwujudan penghambaan kepada al-Khaliq semata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s