L.4. Prinsip Kesinambungan Tarbiyah

L.4. Prinsip Kesinambungan TarbiyahTarbiyah Islamiyah mengharuskan prinsip ini untuk menjamin kelangsungan proses Islamisasi kehidupan, yakni: kesinambungan tarbiyah. Penanaman prinsip ini seiring dengan pemahaman bahwa kita berpacu dengan waktu dan beradu dengan belenggu, rintangan serta godaan yang meliputi proses itu. Tarbiyah yang benar dan berkesinambungan akan membentuk 3 hal mendasar berikut:

IMAN YANG SEMPURNA

Tarbiyah yang Rabbani sangat dekat untuk mengantarkan seseorang memiliki keimanan yang sempurna. Keimanan kepada Allah, kepada Rasul, dan kepada Islam yang sesungguhnya tanpa keraguan dan tergoyahkan, sehingga menjadi ikatan [aqidah] yang benar-benar mendalam dana mendarah daging.

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus.” (al-Baqarah: 256)
CINTA YANG MENDALAM

Aqidah yang kuat itu mengikat kaum mukminin sedemikian rupa sehingga melahirkan ikatan yang kuat antara mereka untuk bersatu padu membangun dan memelihara keimanan dalam dada mereka. Maka tarbiyah mengakomodasi ikatan itu melalui proses saling mengenal, salinng memahami, dan saling menanggung untuk mewujudkan persaudaraan yang mengikat. Yakni persaudaraan yang diikat oleh ikatan yang amat kuat dan tidak akan putus.

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu [masa jahiliyah] bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, dan menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
PENGORBANAN YANG TULUS

Keimanan dan persaudaraan yang kuat menjadi inspirasi kaum Mukminin untuk memberikan yang terbaik untuk Allah, Rasul, Islam dan kaum Muslimin, meskipun harus berkorban harta, fikiran, bahkan jiwa sekalipun. Karena pengorbanan itu dilahirkan dari hati yang tulus ikhlas, maka menjelmalah ia sebagai prajurit Islam yang muthi’ah.

“Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah . yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41).

 

Ketiga hal mendasar di atas, yakni iman yang sempurna, cinta yang mendalam dan pengorbanan yang tulus, diproses secara alami: pelan tapi pasti [berkesinambungan], dan bukan proses karbitan yang penuh dengan ketergesaan. Akhirnya pribadi yang berbekal tiga hal tersebut, akan menjadi hamba rabbani yang dekat denangan tuhannya.

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut [nya] yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah. Dan tidak lesu dan tidak [pula] menyerah [kepada musuh]. Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali ‘Imraan: 146)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s