J.4. Istiqamah

J.4. IstiqomahKepribadian yang sangat menonjol dalam diri seorang mukmin adalah konsistensinya atas kebenaran. Dengan berpegang teguh pada tali Allah, seorang mukmin akan mendapat furqan dalam dirinya. Al-Fushshilat ayat 30 menyatakan bahwa seseorang yang mengucapkan syahadat selalu istiqamah, para malaikat akan turun kepada mereka agar mereka tidak khawatir dan tidak juga bersedih hati. Betapa tidak, dengan istiqamah itu Allah dan para Malaikat-Nya akan menjadi pelindungnya dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Mereka akan mendapatkan apa yang menyenangkan hati dan apa yang mereka impikan. Akan tetapi istiqamah tidak datang begitu saja. agar bisa istiqamah orang harus memenuhi tiga syarat pokok yang apabila tidak dipenuhi salah satunya, maka tidak akan istiqamah, yaitu:

1. Dalam hal Prinsip

Dalam hal prinsip ia harus menjadikan segala amalnya itu ikhlas lillaaHi ta’ala atau untuk Islam, bukan untuk selain Allah atau dan bukan pula untuk selain Islam. Demikian itu karena Allah adalah tempat bergantung. Allah-lah yang mencukupi kebutuhannya, memenuhi harapannya, dan mengabulkan doa-doanya. Kalaupun ia tidak mendapatkan apa yang ia harapkan itu di dunia, ia masih punya harapan di akhirat. Tidak ada sedikitpun amal yang sia-sia. Sebaliknya apabila ia tidak menjadikan amalnya karena Allah dan bukan untuk Islam, ia akan meninggalkan amalnya itu manakala ia tidak mendapatkan apa yang ia harapkan. Padahal ia tahu bahwa selain Allah adalah makhluk yang terbatas kemampuannya dan lemah seperti dirinya. Apabila ia berharap kepada yang lemah dan terbatas, pasti ia akan banyak kecewa dan akhirnya meninggalkan amalan sejauh-jauhnya.

2. Dalam pedoman

Ia harus selalu bersama Allah dalam setiap amalnya. Artinya ia harus menjadikan Islam sebagai pedomannya dalam beramal. Keimanan seseorang tidak sempurna apabila ia belum menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya.

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sebelum hawa nafsunya [seleranya] mengikuti [ajaran] yang aku bawa.”

Disamping itu, sistem dan konsepsi Islam telah dibuat sedemikian rupa agar orang dapat konsisten. Di antaranya adalah bahwa syariat Islam itu mudah, ringan, fitri, manusiawi dan logis. Sistem selain Islam sering kali menyulitkan, berat, tidak manusiawi, dan irrasional. Sebagai contoh, Islam menjadikan shalat wajib hanya lima kali sehari semalam meskipun nilainya sama dengan lima puluh kali. Apabila lebih dari lima kali, manusia yang hidup di zaman sekarang ini akan merasa keberatan dan kesulitan karena kemampuan kita tidak akan mampu menjangkaunya.
Dalam berpuasa, Islam mewajibkan iftar [berbuka] dan mensunahkan sahur. Dengan berbuka seseorang akan mendapatkan energinya kembali setelah seharian berpuasa. Dengan santapan sahur ia memperoleh energi yang memungkinkannya bertahan hingga petang hari.

3. Dalam tujuan

Untuk istiqamah orang harus menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya. Itu artinya, ia juga harus menjadikan Islam sebagai tujuannya. Jika ia berdakwah, ia mengajak masyrakat kepada Allah dan agama-Nya, bukan pada fanatisme golongan, madzab, atau kepentingan duniawi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s