J.3. Furqan

J.3. FurqanKarena syubhat, kemampuan intelektual, dan faktor lainnya, kadang orang tidak dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Al-Qur’an disebut sebagai al-Furqaan karena ia membedakan antara yang haq dan yang batil. Dengan berbagai cara Allah menyatakan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan. Allah tidak menghendaki ada orang sesat hanya karena ketidakjelasan. Allah menghendaki agar manusia beriman atas dasar argumentasi dan kesadaran [‘alaa bashirah], bukan paksaan, ketidaktahuan, apalagi tekanan. Orang kafir pun kufur atas kesadaran dan argumentasinya. Demikian itu agar Allah tidak dhalim dalam memberi balasan. Mahasuci Allah dari kedhaliman itu.

Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku mengharamkan kedhaliman atas diri-Ku, dan Aku jadikan hal itu sebagai hal yang diharamkan di antara kalian, karena itu janganlah saling mendhalimi.”

Al-Qur’an memberikan petunjuk yang sangat jelas untuk membedakan antara keduanya. Allah swt. sangat jelas dan tegas membedakan Allah sebagai sumber kebenaran dan thagut sebagai sumber kebathilan. Antara cahaya dan kegelapan; antara petunjuk dan kesesatan; antara Islam dan jahiliyah.

Tidak ada paksaan dalam agama, telah jelas antara petunjuk dan kesesatan. Karena itu barangsiapa yang kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah berarti ia telah berpegang teguh pada tali [agama] Allah, tidak akan lepas. Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui. Allah adalah wali bagi orang-orang yang beriman, Allah lah yang mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Sedangkan orang-orang kafir walinya adalah thaghut, yang mengajak mereka dari cahaya kepada kegelapan.

Dengan iman kepada Allah dan kufur kepada thaghut berarti orang telah berpegang pada tali yang kokoh, yang tidak akan lepas. Itulah prinsip utama, apapun yang terjadi. Dengan prinsip ini ia mendapatkan furqan dalam dirinya, sehingga menjadi pribadi yang khas dan identitas yang khas pula. Ia tenang, tenteram, bijak dan kokoh karena Allah pelindungnya. Allah menerangi jalan hidupnya sehingga ia selalu dalam petunjuk dan cahaya-Nya. Semua problematikanya akan terpecahkan karena Islam memberikan solusi kepadanya. Itulah hayatan thayyibah [kehidupan yang baik] di dunia. Di akhirat ia akan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan.

Adapun orang kafir kepada Allah dan beriman kepada thaghut, ia berpegang pada prinsip yang rapuh. Thaghut dengan kebatilannya hanya akan menjerumuskannya ke dalam kegelapan dan kesesatan jahiliyah yang selalu menimbulkan problematika hidup. Sementara di akhirat, ia dijebloskan ke dalam neraka yang penuh dengan nestapa dan penderitaan.

Berpegang teguh pada tali yang kokoh dilakukan dengan:

  • Menjadikan seluruh hidupnya untuk Allah sebagaimana dikatakan oleh Ibrahim as: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (al-An’am: 162)
  • Bersama Allah, yaitu menjadikan-Nya selalu menyertai segala aktivitasnya. Hal ini dilakukan dengan berpegang pada minhajul hayah [pedoman hidup] yang diturunkan-Nya. Seseorang tidak beriman sebelum ia mengikuti minhajul hayat ini.
  • Menjadikan Allah sebagai orientasi dan tujuan hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s