J.2. Kekuatan al-Haq

J.2. Kekuatan Al-HaqAllah yang merupakan pemilik kebenaran itu disebut juga sebagai al-Haq. Allah disebut juga sebagai al-Qawiyyu [Yang Mahakuat]. Sebagian dari kekuatan-Nya itu diletakkan di alam semesta berupa potensi kekuatan alam yang sangat besar. Kekuatan itu juga ada dalam kebenaran yang berupa qaul [ucapan], yaitu konsep kebenaran yang didukung dengan hujjah dan argumentasi yang kokoh dan kuat. Dengan demikian, kebenaran itu ada yang berupa kebenaran ucapan [qauli], ada pula yang berupa kebenaran alam [kauni]. Demikian pula kekuatan, ada kekuatan qauli ada pula kekuatan kauni.

KEKUATAN QAULI

Al-haq [kebenaran] yang mutlak dan sebenar-benarnya adalah kebenaran yang berasal dari Allah-Al-Haq, tidak ada perubahan padanya. Kebenaran yang datang dari makhluk bersifat relatif dan berubah-ubah karena didasarkan pada zhan. Karena itu para ulama sendiri tidak berani mengklaim bahwa hasil ijtihadnya adalah haq dan hasil ijtihad ulama lain yang berbeda dengannya disebut sebagai batil. Mereka mengatakan bahwa ijtihad itu ada kemungkinan shawab [tepat] atau mungkin saja khatha [keliru]. Dalam hal-hal yang qath’i misalnya pada ayat-ayat muhkamat dan permasalahan aqidah, mereka tidak berbeda pendapat karena dalil itu sangat jelas. Perbedaan yang terjadi di antara mereka hanyalah pada ayat-ayat yang zhanni. Menyadari akan hal itu maka mereka sangat toleran dan berlapang dada dalam menghadapi perbedaan pendapat. Para ulama madzab Hanafi misalnya, mereka mengatakan, “Pendapat kami tepat namun mungkin saja keliru dan pendapat selain kami keliru namun mungkin saja tepat.”

Imam Syafi’i dengan sangat bijak mengatakan: “Bila hadits itu shahih, itulah madzabku.”

Imam Malik mengatakan: “Setiap orang bisa saja diambil sebagian perkataannya dan bisa saja ditinggalkan, kecuali penghuni makam ini [Rasulullah saw.].

Meski demikian harus disadari bahwa para ulama bukan sembarang orang. Mereka adalah orang-orang pilihan yang Allah persiapkan untuk memperbaharui agama ini. Setiap satu abad sekali Allah mengutus seorang mujaddid untuk memperbarui agama ini. Pembaharuan dalam Islam bukan bid’ah. Ia adalah upaya mengembalikan masalah kepada akar agama yang orisinil. Dengan demikian kehidupan tidak semakin jauh dari agama, namun agama juga bukan merupakan sesuatu yang menghambat kemajuan zaman.

KEKUATAN ALAM

Alam menyimpan potensi yang sangat besar. Semua diperuntukkan bagi kemaslahatan manusia. Allah telah menundukkan segala yang di langit maupun di bumi untuk manusia sebagai fasilitas ibadah kepada-Nya. Penundukan itu terjadi dengan sunnah kauniah [hukum alam] yang sudah Allah tentukan sedemikian rupa. Alam tidak akan membantah atau tidak akan menolak sunnah ini karena alam tidak punya potensi untuk memilih. Alam hanya menjalankan sunnah ini secara taat maupun terpaksa. Dengan memahami dan menggunakan sunnah kauniyah, manusia mempunyai kekuatan besar untuk kemaslahatan hidup mereka. Tugas manusia adalah memanfaatkan potensi alam ini. Adalah nikmat Allah yang tiada terperi ketika Allah menempatkan kaum muslimin di wilayah-wilayah yang menyimpan potensi dan kekayaan alam yang sangat besar.

Orang kafir penganut kebatilan hanya menguasai kekuatan alam, sementara orang beriman penganut al-haq memadukan dua kekuatan itu untuk memenangkan kebenaran atas kebatilan. Dengan itulah Allah memenangkan agama ini atas agama-agama seluruhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s