I.2. Penyakit Umat Dalam Dakwah

I.2. Penyakit Umat Dalam DakwahSebenarnya dakwah Islam tidak pernah berhenti, namun barangkali ia tidak efektif dalam melakukan perubahan. Bahkan kadang yang terjadi justru hasilnya malah kontraproduktif dengan dakwah itu sendiri. Mengapa bisa terjadi? Muasal masalah tersebut sesungguhnya bersumber pada sikap individu pelaku dakwah. Penyakit ini lantas menjadi sebuah sikap. Sikap dan pendirian ini kemudian mempengaruhi maknawiyah [mental] dan aktifitasnya.

Lemahnya ma’nawiyah dalam dakwah. Efek mental akibat sikap infirodi [individu] dalam dakwah dapat dilihat dari gejala-gejala berikut:

  • Emosional dalam menghadapi keadaan hingga berlaku serampangan
  • Figuritas bahkan kultus hingga menimbulkan diktatorisme dalam dakwah
  • Superioritas [merasa paling hebat] yang menyebabkan egoisme
  • Meremehkan orang lain hingga ia menyempal dan memecah-belah umat

Lemahnya aktivitas dalam dakwah akibat sifap infirodi dalam dakwah dapat dilihat dari gejala-gejala berikut:

  • Improvisasi yang asal-asalan. Dakwah yang dilakukan secara spontanitas demikian tidak dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.
  • Parsial [sebagian-sebagian] dalam melakukan perbaikan sehingga yang terjadi justru kontradiksi dan pertentangan.
  • Tradisional dan konserfatif hingga meninbulkan kedangkalan argumen dan wawasan
  • Perbaikan yang dilakukan bersifat tambal sulam. Hal ini disebabkan berbagai keterbatasan yang ada pada individu. Betapapun hebatnya, sebagai manusia maka seorang dai tidak luput dari kekurangan. Baik aspek kemampuan maupun usia. Dakwah tambal sulam yang demikian tidak akan membuahkan hasil. Energinya habis percuma karena belum selesai perbaikan pasa suatu sisi, kekurangan terjadi di tempat lain. Belum selesai perbaikan pada bagian kedua, bagian pertama yang kemarin sudah mulai usang.

Terapi penyakit umat. Penyakit dakwah yang sangat berbahaya ini hanya dapat disembuhkan dengan amal jama’i. Namun banyak orang tidak siap untuk melakukan amal jama’i selama penyakit individualistis yang menjangkiti dirinya belum terobati. Pengobatan terhadap penyakit jiwa ini dapat dilakukan dengan:

  • Penyadaran bahwa sikapnya itu berbahaya bagi diri dan dakwah. Ia tidak dapat memberikan kontribusi maksimal
  • Meluruskan orientasi dakwahnya untuk Islam, bukan untuk kepentingan individu, keluarga maupun golongan
  • Tawadlu [rendah hati]. Hanya Allah saja yang pantas menyandang sifat takabur karena Allah Mahahebat.
  • Objektifitas dalam menilai diri, orang lain, maupun realitas umat.
  • Kesadaran akan pentingnya manhaj dalam dakwah.
  • Kesadaran untuk melakukan dakwah secara integral dan menyeluruh
  • Modernisasi metodologi dakwah dan tidak konservatif, hingga umat tercerahkan.
  • Perubahan secara total, hingga umat tersadarkan fikiran, semangat dan aktivitasnya.

Dakwah yang merupakan proyek besar dan berat ini tidak mungkin dilakukan secara individual. Sebab tiap-tiap diri pasti tidak bebas dari kekurangan. Namun, betapapun kecil dan terbatasnya individu, dakwah akan menjadi besar dan kuat dalam amal jama’i.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s