G.3. Sarana Perang Pemikiran

G.3. Sarana Perang PemikiranBetapapun berbeda ideologi, nama, wadah, dan kepentingannya, musuh-musuh Islam yang terdiri dari kaum atheis, Yahudi, Nasrani, Musyrikin dan munafiqin bersatu memerangi Islam dan kaum muslimin. Untuk sementara waktu, mereka dapat melupakan permusuhan dan konflik horizontal yang terjadi di antara mereka dalam rangka mencapai tujuan yang lebih besar dan menghadapi musuh yang lebih besar. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai golongan sekutu [al-Ahzab] dengan kesombongan dan keangkuhan sebagai karakteristiknya.

Engkau mengira bahwa mereka bersatu padahal hati mereka bercerai berai. Mereka bersama dengan pasukan iblis lainnya telah mengeluarkan biaya sangat besar untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka pasti akan membelanjakannya, kemudian dana itu akan menjadi penyesalan bagi mereka. Dan mereka pasti akan kalah.
Sarana-sarana yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan busuk itu adalah:

1. Pers dan media informasi

Media cetak maupun elektronik telah mendapatkan posisi tersendiri di era informasi global ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa siapa yang menguasai informasi, ia akan menguasai dunia. Musuh-musuh Islam telah menggunakan media-media itu sebagai mimbar dan corong yang efektif untuk menyebarkan syubhat dan kemungkaran.

2. Pendidikan

Mereka menempatkan orang-orang nya di berbagai jabatan, bahkan memasukkan ajaran agama dan ideologi mereka ke dalam kurikulum di semua level. Melalui pendidikan mereka telah berhasil memurtadkan pemuda-pemuda Islam, terutama mereka yang telah diberi beasiswa untuk belajar di negeri-negeri barat.

3. Penerbitan

Mereka menerbitkan brosur, buletin, dan sejenisnya. Meskipun tidak terang-terangan, nilai-nilai kekafiran dan propaganda kefasikan sangat kentara dalam media-media mereka.

4. Hiburan

Mulai hiburan tradisional, modern, hingga reality show mereka manfaatkan juga. Untuk itu mereka tidak hanya mendirikan cafe-cafe, pub, bioskop, tempat-tempat lokalisasi, namun juga memanfaatkan radio, tv, internet dan sebagainya. Demikian itu karena hiburan sangat efektif untuk melalaikan umat dari agenda besar dan nasib memprihatinkan yang menimpa saudara atau negeri mereka.

5. Klub-klub

Klub seni dan budaya, hobi, bahkan klub arisan tak luput dari perhatiannya. Dalam kelompok-kelompok itu mereka menanamkan tradisi-tradisi jahiliyyah seperti khamr, judi, ikhtilath, standing party dan sebagainya.

6. Olah raga

Mereka menyebut prestasi dalam olahraga sebagai kepahlawanan yang pantas dibanggakan. Kalau hanya sebatas olahraga, tentu akan baik-baik saja. masalahnya adalah bahwa olahragapun mereka gunakan untuk melalaikan probema azazi kehidupan.

7. Yayasan dan LSM

Sebagiannya menggunakan nama Islami dan melakukan kegiatan-kegiatan yang terkesan Islami. Bahkan ada sejumlah gereja yang menggunakan pakaian adat masyarakat Islam berikut puji-pujian mereka dalam misa di gereja.

Seluruh usaha dan sarana itu mereka kerahkan secara simultan kepada sasaran paling empuk yaitu kaum mustadl’afin [kaum lemah]. Hasilnya banyak di antara mereka yang miskin dan berpendidikan rendah itu murtad. Mereka itu menjadi sasaran empuk ghazwul fikri karena pengalaman membuktikan bahwa orang tidak akan berpindah dari agama Islam kecuali yang lemah imannya, ditambah lagi miskin, bodoh, atau beambisi terhadap kedudukan. Strategi yang mereka lakukan adalah memberi perhatian dan advokasi. Setelah bertanam budi, mereka minta komitmen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s