F.3. Konsekuensi Iman Kepada al-Qur’an

F.3. Konsekuensi Iman Kepada Al-Qur'anIman kepada al-Qur’an menuntut beberapa hal yang harus dipenuhi oleh orang yang telah menyatakan beriman kepadanya. Keimanan itu tidak sempurna bahkan patut dipertanyakan kebenarannya apabila ia belum memenuhinya. Diantara konsekuensi-konsekuensi itu adalah:

1. Akrab dengan al-Qur’an

Seseorang dikatakan akrab dengan al-Qur’an apabila ia melakukan interaksi yang intens dengannnya. Hal itu dilakukan dengan cara mempelajari dan mengajarkan kepada orang lain.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Yang ia pelajari dan ajarkan itu meliputi:

a. Bacaannya.

Membaca al-Qur’an dengan baik sesuai dengan makhraj – tajwidnya merupakan indikasi keimanan seseorang. Untuk itu seorang mukmin harus mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain dengan baik.

b. Pemahamannya.

Hal ini dilakukan dengan mempelajari dan mengajarkan maknanya secara baik, karena sebagian ayat-ayatnya harus dipahami secara kontekstual. Pemahaman kontekstual harus didasarkan pada apa yang dipahami oleh para salafushalih melalui riwayat-riwayat yang shahih. Pemahaman kontekstual dapat juga dengan penalaran akal, asal tidak menyimpang dari riwayat, karena Nabi saw. dan para shahabatnya tentu lebih memahaminya. Merekalah yang mengalami masa turunnya wahyu itu.

c. Penerapannya.

Apa yang telah dipahami hendaklah diterapkan dalam kehidupan. Di samping itu, ia mempelopori penerapannya dalam kehidupan dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.

d. Penghafalan dan penjagaannya.

Ia menghafal al-Qur’an dan mengajarkan hafalan al-Qur’an kepada orang lain. Di samping itu ia senantiasa menjaga hafalannya supaya tidak rusak, mengalami perubahan atau hilang.

2. Mendidik diri dengannya

Al-Qur’an memuat nilai-nilai dan ajaran yang ideal, sementara manusia dan kehidupan di sekitarnya terkadang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an. Dalam kondisi ini, ia berusaha untuk mendidik diri supaya sifat-sifat dan karakternya sesuai dengan al-Qur’an. Bila berhasil, ia akan menjadi orang yang berkepribadian khas karena al-Qur’an dengan shibghah mewarnai seluruh dirinya secara utuh.

3. Tunduk menerima hukum-hukumnya.

Al-Qur’an sebagai hukum dan perundang-undangan tidak cukup dibaca dan dikaji. Al-Qur’an harus dipatuhi dengan segala ketundukan dan lapang dada karena hukum-hukum yang ada di dalamnya dibuat oleh Allah swt. Yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. Penolakan dan pembangkangan terhadap al-Qur’an merupakan kebodohan yang hanya akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran.

4. Mengajak [menyeru] orang kepadanya

Karena ia yakin bahwa al-Qur’an adalah kebenaran hakiki yang menentramkan, maka ia pun mengajak orang lain kepadanya dengan cinta dan penuh tanggung jawab. Disamping itu karena sebagian nilai dan hukum-hukumnya hanya dapat ditegakkan bersama dengan orang lain dalam wadah jamaatul muslimin yang solid.

5. Menegakkannya di bumi

Nilai dan hukum-hukum yang menyangkut kehidupan pribadi ditegakkan dalam dirinya sebagai individu. Dalam konteks kehidupan sosial politik ia ditegakkan bersama dengan kaum mukminin lainnya dalam wadah jamaah yang solid, tentunya dalam institusi sosial politik dan kenegaraan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s