E.9. Hasil Ibadah

E.9. Hasil IbadahAllah menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada-Nya. Tujuan yang hendak dicapai dengan ibadah itu adalah agar mereka bertakwa. Hal ini dapat kita pahami dari perintah-perintah ibadah dalam al-Qur’an maupun sunnah, baik ibadah secara umum maupun ibadah yang disebut secara khusus. Ibadah ghairu mahdhah yang disebut langsung dan disampaikan pula tujuannya misalnya dalam surah al-Baqarah: 21. Adapun ibadah mahdhah misalnya puasa (al-Baqarah: 183).

Takwa adalah derajat iman yang tertinggi, dimana orang yang menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Namun tidak setiap ibadah akan dapat mengantarkan pelakunya pada derajat takwa. Ia baru akan efektif membentuk pribadi takwa apabila dilakukan dengan syarat dan kualifikasi tertentu.

Syarat-syarat kualifikasi itu adalah:

1. Iman.
Imanlah yang membedakan amal orang mukmin dan amal orang munafik. Tanpa iman, suatu amal menjadi tanpa ruh dan kosong. Al-Qur’an menyebutnya sebagai fatamorgana atau bagai debu yang tertiup angin kencang. Demikian itu karena ibadah yang dilakukan tanpa iman tidak diperuntukkan bagi Allah, tidak disertai harapan untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya, dan tidak mengikuti tuntunan Rasul-Nya.

2. Islam.
Islam sikapnya [ketundukan dan menyerahkan diri] maupun Islam sebagai sistem. Dalam konteks sistem, iman lebih banyak menyangkut urusan hati dan berkaitan dengan aspek aqidah. Islam mengatur bagaimana beriman itu. Al-Qur’an mengatakan bahwa beriman dengan cara selain Islam, tidak dianggap iman karena barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, ia termasuk orang yang rugi. Sebab, agama di sisi Allah hanyalah Islam. Karena itu orang belum dianggap beriman kalau ia belum Islam.

3. Ihsan.
Ihsan adalah sikap seseorang yang melakukan ibadah seakan-akan ia melihat Allah dan kalaupun ia tidak melihat, ia yakin bahwa Allah melihatnya. Kondisi hati yang demikian akan mempengaruhi kualitas amalnya sehingga ia akan merupakan amal yang terbaik.

4. Ketundukan.
Yaitu kondisi hati yang tunduk mengakui kebesaran Allah dan keagungan ayat-ayat-Nya, tidak ada kesombongan, kecongkakan, dan kepongahan.

5. Tawakkal.
Yaitu menyerahkan urusan kepada Allah. Tugas manusia hanya melakukan /berproses sesuai manhaj. Hasilnya ia serahkan kepada Allah.

6. Cinta (lihat kembali Hakekat ibadah)

7. Harapan (lihat kembali Hakekat ibadah)

8. Takut (lihat kembali Hakekat ibadah)

9. Taubat.
Betapapun telah melakukan ibadah dan ketaatan, seorang mukmin tetap hatus senantiasa bertaubat dan istighfar. Hal ini untuk mengantisipasi kalau ia melakukan kesalahan yang tidak disadari.

10. Doa.
Harap dan takut menjadikannya berdoa agar ibadahnya diterima dan dijauhkan dari kerugian dunia dan akhirat.

11. Khusyu’.
Kekhusyu’an hati akan terindikasikan oleh kekhusyu’an lahir apabila dilakukan dengan tuma’ninah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s