E.8. Diterimanya Ibadah

E.8. Diterimanya IbadahSuatu amal perbuatan akan dinilai dan diterima sebagai ibadah bila ia memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syariat.

1. Ibadah mahdhah

Ibadah mahdhah lebih banyak merupakan ritual yang kadang kita tidak mengetahui hikmahnya. Namun demikian, ia harus dikerjakan dengan segala ketaatan, tanpa mempertanyakan hikmahnya. Di antaranya ada yang berat dan sulit, ada yang ringan dan mudah, bahkan ada yang terkesan remeh dan tidak logis. Semua harus dikerjakan sebaik-baiknya karena itu adalah ujian. Alla bebas menentukan bagaimana dan dengan cara apa menguji-menilai hamba-Nya.
Diterimanya ibadah mahdhah tergantung tiga syarat:

a. Disertai dengan niat.
Sesungguhnya niat itu menentukan diterima atau tidaknya suatu amal. Tanpa niat, atau dengan niat tapi tidak ikhlas, suatu amal tidak dapat diterima sebagai ibadah. Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan basmallah, itu terputus [pahalanya]

b. Disyariatkan.
Dalam suatu riwayat Rasulullah saw. mengatakan bahwa setiap amal ibadah yang tidak didasarkan pada hukum yang telah disyariatkan maka termasuk bid’ah.

c. Caranya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw.
Cara ini 100 % harus diikuti. Sengaja menyimpang 1% saja dari contoh yang telah diberikan oleh Rasulullah saw. sama dengan telah membuat syariat baru atas dasar kemauannya sendiri.

Ibadah mahdhah ini harus mengikuti Rasulullah saw. secara manhaj [aspek konseptual] dan kaifiyah [implementasinya]. Ketiga syarat itu harus terpenuhi seutuhnya. Dua syarat saja yang terpenuhi, ibadah dalam konteks ini tidak dapat diterima, apalagi hanya memenuhi satu syarat. Niat ikhlas namun secara syariah dan caranya tidak benar disebut bid’ah, sedang bila syariat dan caranya benar namun niatnya tidak benar disebut syirik [musyrik].

2. Ibadah ghairu mahdhah

Ibadah ghoiru mahdhah (ibadah tidak murni) yaitu ibadah non ritual. Ia adalah ibadah dalam arti luas. Seperti halnya ibadah mahdhah, amal dalam konteks ini akan mendapat nilai ibadah kalau memenuhi persyaratan namun syaratnya tidak seketat ibadah mahdhah. Dalam konteks ini, setiap amal lahir maupun batin berupa niat, ucapan, maupun tindakan yang dimaksudkan untuk mencari ridla Allah adalah ibadah. Meskipun demikian ia tidak boleh menyimpang dari manhaj berupa kaidah-kaidah umum yang telah ditetapkan syariat. Ibadah ghairu mahdhah hanya ada dua syarat yaitu niat ikhlas dan sesuai kaidah umum yaitu bukan merupakan amal yang secara syar’i dianggap sebagai keburukan. Ia adalah amal shalih yaitu perbuatan yang secara syar’i dianggap baik. Suatu amal dianggap baik jika ia bermanfaat, tidak keluar dari kaidah laa dharara walaa dhiraar [tidak rugi dan tidak merugikan atau tidak mendapatkan bahaya dan tidak menimbulkan bahaya bagi orang lain].

Kedua syarat itu harus dipenuhi. Dalam pandangan hukum agama, niat ilhlash namun amalnya tidak sesuai dengan manhaj, tidak dianggap ibadah. Sebaliknya apa yang dianggap baik secara insaniah tidak akan dianggap sebagai ibadah apabila niatnya bukan karena Allah. Ketiadaan niat lillaahi ta’ala dalam hal ini tidak termasuk syirik namun ia tidak mendapat nilai ibadah.

Inilah rahasia keberuntungan orang beriman. Ia selalu mendapat nilai plus dalam setiap amalan yang ia lakukan. Balasannya, kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s