E.7. Cakupan Ibadah

E.7. Cakupan IbadahAllah telah memaklumkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. ibadah dalam Islam tidak terbatas pada kegiatan ritual atau seremonial. Sebagain ibadah memang merupakan ritual-ritual baku yang harus dikerjakan sedemikian rupa dengan syarat-syarat tertentu, cara-cara tertentu, dan waktu-waktu tertentu. Ibadah dapat digolongkan dalam dua kategori, ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah [murni] yang demikian dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa asalnya haram kecuali yang disyariatkan. Namun, Islam memberi pintu yang sangat luas untuk perbaikan setiap perbuatan. Bahkan, niat yang masih dalam hati dapat bernilai ibadah dan pahala. Inilah yang tergolong ibadah ghairu mahdhah [umum].

Jumlah dan waktu ibadah mahdhah sangat sedikit dibanding waktu yang digunakan untuk aktifitas duniawi. Karena itu, Allah dengan sifat kasih sayang-Nya menilai setiap aktifitas duniawi menjadi ibadah. Setiap perbuatan lahir maupun batin, ucapan maupun tindakan yang dimaksudkan untuk mencari keridlaan Allah adalah ibadah. Sehingga ibadah dalam Islam memiliki cakupan yang sangat luas, meliputi seluruh aspek agama, kehidupan, dan sisi-sisi manusia itu sendiri. Inilah yang dikatakan:

1. Mencakup persoalan agama seluruhnya

Perkara yang hukumnya wajib, kalau dikerjakan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan mendapat dosa. Sunnah dianjurkan untuk dikerjakan, kalau melakukannya mendapat pahala dan jika meninggalkannya kehilangan kesempatan berbuat baik. Mubah, adalah perkara netral, tidak haram namun tidak wajib. Akan tetapi, justru dalam perkara mubah inilah seorang mukmin mendapatkan kesempatan yang sangat luas untuk mendapatkan nilai ibadah dari Allah. Demikian itu karena dibanding dengan yang alin, perkara yang mubah jauh lebih banyak dan beragam. Dengan dasar niat lillaaHi ta’ala setiap perbuatan yang mubah, hal-hal yang menjadi kebutuhan dan kesenangannya, [bahkan mungkin tidak pernah terbayangkan bila akan dapat dinilai sebagai ibadah] seorang muslim akan mendapat nilai ibadah.

2. Mencakup seluruh aspek kehidupan

a. Perbuatan-perbuatan naluriah individu seperti makan, minum, olahraga, sampai pada hubungan suami-istri. Ketika sebagian shahabat mempertanyakan yang terakhir ini Rasulullah balik bertanya: “Bagaimana kalau ia menyalurkannya kepada wanita yang bukan istrinya, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia melampiaskan pada istrinya, itu bernilai shadaqah.”

b. Amal-amal sosial: kerja bakti, membantu tetangga, membesuk orang sakit, silaturahim pada shahabat dan handai tolan, dan sebagainya.

c. Bekerja mencari nafkah. Sebaik-baik makanan adalah yang merupakan hasil jerih payahnya sendiri. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Akan mendapat ampunan orang yang sore hari kelelahan karena bekerja.

d. Pemakmuran bumi seperti pertanian, perkebunan, perikanan, pembangunan jalan, jembatan dan sebagainya.

e. Penegakan agama meliputi sistem akhlak, ibadah, maupun syariah. Penegakannya membutuhkan amal jama’i. Sebagiannya merupakan kewajiban kolektif yang bila tidak dilakukan oleh seorangpun maka semua akan berdosa.

3. Mencakup diri manusia seluruhnya

a. Hati. Niat melakukan kebaikan, akan ditulis satu kebaikan meskipun tidak dikerjakan. Bila dikerjakan, pahalanya berlipat. Niat yang buruk hanya dicatat sebagai suatu keburukan kalau dikerjakan. Bila tidak dikerjakan tidak ditulis sebagai suatu kejahatan.
b. Akal. Berfikir, berjalan, mencari ilmu, membaca, berpendapat, berdiskusi dan lain sebagainya.
c. Anggota badan. Alat yang mengimplementasikan pekerjaan hati dan akal fikirannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s