E.6. Hakekat Ibadah

E.6. Hakikat IbadahIbadah berasal dari kata ‘abada yang berarti menghamba. Dari kata itu kita temukan kata ‘abdun yang berarti budak [hamba], ‘ibadah yang berarti penghambaan, dan ‘ubudiyah [perbudakan]. Allah yang menciptakan manusia dengan penciptaan yang paling sempurna, memuliakannya, memberikan berbagai kelebihan, dan mengangkatnya sebagai khalifah di muka bumi tidak rela kalau ia menghamba atau menjadi hamba. Apabila diperhamba oleh sesama makhluk, apa dan siapapun.

Penghambaan kepada sesama makhluk hanya akan mengakibatkan kehinaan bagi yang menghamba dan ketakaburan bagi yang diberi penghambaan. Keduanya akan mendapat siksa karena melampaui batas hak penciptaan. Yang menghamba berdosa karena telah memberikan penghambaan kepada pihak yang tidak berhak dan dalam waktu yang sama tidak menghargai Allah yang telah memberikan banyak nikmat kepadanya. Yang menerima penghambaan juga dosa karena dengan itu ia merampas hak Allah dan menempatkan diri pada kedudukan yang tidak semestinya. Dalam suatu riwayat Rasulullah saw. bersabda: “Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk menyembah orang lain, tentu aku sudah memerintahkan agar istri menyembah suaminya.”

Sebaliknya ketika manusia hanya memberikan penghambaannya kepada Allah saja, ia akan mendapatkan kemuliaan, kebesaran, dan kemerdekaan. Terutama kebebasan dari kalangan diri [nafsu] pribadi.

PANGKAL IBADAH

Ibadah kepada Allah dilakukan dengan segenap keikhlasan seseorang, karena ia merasakan betapa banyaknya nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Hal ini merupakan kesimpulan apabila seseorang merenungi hidupnya. Sejak penciptaannya di dunia hingga keberadaannya sekarang sudah teramat banyak nikmat Allah yang ia terima.

Seseorang yang menghitung nikmat-nikmat Allah niscaya tidak akan dapat menghitungnya, ia hanya mendapati dan merasakan keagungan Allah swt. Hal ini terjadi apabila ia mengamati tanda-tanda kekuasaan dan keagungan Allah yang terdapat di dalam ayat-ayat qauliyah dan tersebar di ayat-ayat kauniyah. Ketika dua hal itu dirasakan, seseorang akan dengan segala ketulusan hatinya beribadah [menghamba] kepada Allah dengan segala kerendahan hati; dengan segala cinta, karena ibadah pada hakekatnya adalah puncak kecintaan; dengan segala ketundukan karena ibadah pada hakekatnya adalah puncak ketundukan.

KESEIMBANGAN DALAM IBADAH

Ibadah yang dilakukan seorang mukmin adalah keseimbangan antara pengharapan dan ketakutan. Peribadahan yang tidak menghinakan karena Tuhan yang disembahnya tidak pernah memperbudaknya, Tuhan yang mencintainya, dan mengangkat derajatnya. Semakin tunduk di hadapan-Nya, semakin tinggi derajat seseorang di hadapan Tuhan dan di hadapan sesama manusia. Ia menundukkan diri dengan kesadaran dan suka cita.

Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan yang telah menciptakannya dengan penuh kasih sayang, memberinya rizky yang melimpah ruah dengan penuh kasih sayang, memeliharanya dengan penuh kasih sayang, mendidiknya dengan penuh kasih sayang, menegurnya dengan penuh kasih sayang, bahkan [kalau terpaksa menghukumnya] menghukum dengan penuh kasih sayang. Pada saat yang sama cinta Allah kepadanya dan cintanya kepada Allah membuat dirinya takut. Jangan-jangan ibadahnya belum pantas, jangan-jangan ibadahnya tidak diterima, jangan-jangan cinta-Nya dicabut. Namun rasa takut ini tidak menimbulkan peputusasaan karena Tuhannya selalu memberi harapan dan mengampuni dosa-dosanya. Pengharapan dan ketakutan selalu berjalan seiring dan seimbang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s