E.5. Sifat Manusia

E.5. Sifat ManusiaSifat manusia sangat ditentukan oleh intensitas dan efektivitas usahanya dalam melakukan tadzkiyatun nafs. Mengapa? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa manusia diciptakan dengan membawa dua potensi yang berseberangan. Allah telah mengilhamkan ke dalam jiwanya fujur /dosa dan ketakwaan.

TAZKIYATUN NAFS

Manusia yang beruntung adalah yang melakukan tazkiyah. Termasuk dalam pengertian tadzkiyah adalah pembelajaran, pelatihan, dan tarbiyah. Tazkiyatun nafs akan membentuk seseorang berkepribadian sebagai ‘ibadurrahman [hamba Sang Mahapenyayang]. Allah sangat mencintainya. Sifat-sifat mereka antara lain:
Syakur [banyak bersyukur]
Shabur [banyak bersabar]
Ra’uf [penyantun]
Rahim [penyayang]
Halim [arif]
Tawwab [banyak bertobat]
Awwab [lemah lembut]
Shaduq [sangat jujur]
Amin [amanah]

Orang yang senantiasa mensyukuri nikmat akan mendorong jiwanya untuk memahami bahwa potensi baik yang sudah Allah tanamkan dalam jiwanya harus dipelihara, disirami, dipupuk, disiangi dan dihindari dari polusi, virus, hama dan penyakit. Dengan begitu ia akan tumbuh subur, berbunga, dan memberikan buanya setiap musim. Dialah yang [sukses] di dunia dan akhirat.
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk hari sesudah mati.” (HR Muslim)

TADSIYATUN NAFS

Jiwa yang dibiarkan tanpa tadzkiyah akan berkarat dan akhirnya jadi kotor. Apabila sengaja dikotori. Akibat pengotoran itu muncullah sifat-sifat buruk padanya sehingga ia menjadi manusia yang merugi. Sifat-sifat mereka adalah:
‘Ajulan [suka tergesa-gesa]
Halu’an [banyak berkeluh kesah]
Ghafilan [lalai]
Thaghiyan [melampaui batas]
Qaturan [pelit]
Kafuran [kufur/ingkar]
Aktsara jadalan [banyak mendebat]
Kanudan [banyak membantah]
Zhaluman [sangat dhalim]
Jahulan [sangat bodoh]

Sangat disayangkan bahwa kesadaran untuk melakukan tazkiyatun nafs seringkali hilang akibat berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal. Tantangan internal adalah nafsunya sendiri yang cenderung pragmatis. Ia lebih suka segera [tergesa-gesa] menikmati meskipun hanya sebentar kemudian hilang, daripada harus bersusah payah dengan kenikmatan jangka panjang yang lebih kekal. Sebenar-benar kerugian adalah apabila manusia lebih memilih kenikmatan sesaat dengan mengorbankan kenikmatan sesaat dengan mengorbankan kenikmatan yang abadi. Itulah orang yang tidak mendapat hidayah. Semoga Allah menghindarkan kita dari sifat-sifat yang demikian.
“Orang yang lemah adalah orang yang mempeturutkan diri pada hawa nafsunya dan hanya berangan-angan terhadap Allah.” (HR Muslim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s