E.4. Jiwa Manusia

E.4. Jiwa ManusiaYang paling unik pada manusia adalah jiwanya. Demikian itu karena baik dan buruknya jasad bergantung kepadanya. Celakanya, jiwa berada di luar kendali manusia hingga seringkali tidak disadari sedang dalam keadaan seperti apakah jiwanya itu. Sekiranya ia dalam kendalinya, tentu ia selalu dalam kondisi yang diinginkan. Allah telah mengilhamkan jiwa itu “fujur” dan “takwa”. Keberuntungan manusia sangat tergantung pada kepandaiannya dalam mengelola jiwanya supaya potensi takwa lebih dominan daripada potensi fujur/ dosa. Konflik di antara keduanya tidak pernah berhenti. Dilihat dari dominasi ruh dan nafsu itu jiwa manusia dapat dikategorikan menjadi tiga karakter. Karakter itu sekaligus juga menunjukkan tingkatannya, yaitu:

1. Apabila nafsu lebih dominan dibanding ruh, yang menguasai jiwanya adalah keinginan untuk memenuhi selera kesenangan [syahwat]. Kondisi yang demikian akan selalu menyuruh untuk melakukan hal-hal buruk. Jiwa yang demikian berada pada tingkat yang paling rendah. Apabila tidak segera diobati, kecenderungannya akan semakin menjadi dan akibatnya akan menjerumuskan pemiliknya ke lembah hina. Pada kondisi yang parah, ia akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berbeda dengan binatang. Bahkan mungkin akan melakukan perbuatan iblis hingga ia dipanggil sebagai setan. Na’udzu billaaHi min dzaalik.

2. Apabila pengaruh kekuatan antara ruh dan nafsu seimbang, maka logika akan banyak bicara. Akan terjadi konflik dan pergolakan yang keras antara keinginan amal shalih dan kecenderungan maksiat. Apabila ada keinginan amal shalih ia pikir-pikir dulu. Pun bila terbersit kecenderungan maksiat ia pun pikir-pikir dulu. Tarik ulur antara dorongan negatif dan positif tiada habis-habisnya. Jiwanya selalu menginginkan yang lebih baik. Bila melakukan keburukan, ia akan mencacinya. Bila melakukan kebaikan ia juga akan mencacinya karena tidak melakukan yang lebih baik. Jiwa dengan kondisi yang demikian lebih baik dibanding yang pertama dan inilah yang dimiliki kebanyakan kaum muslimin.

3. Apabila yang dominan adalah dorongan ruh dibanding dorongan nafsunya, maka manusia akan berdzikir pada setiap keadaan. Jiwa yang demikian ini disebut nafsu muthmainnah [jiwa yang tenang]. Dirinya senantiasa merasa tenteram dan enjoy dengan amal-amal ketaatan. Ibadah akan terasa sangat ringan. Dirinya akan gelisah bila kesempatan dzikirnya terusik. Jiwa dalam kondisi demikian dimiliki para auliaur rahman: para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita jiwa yang tenang ini di dunia, sehingga kelak Allah swt. memanggil kita dengan panggilan lembut,

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya. masuklah ke dalam barisan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (al-Fajr: 27-30).

Allah tak pernah menghendaki bila manusia menjadi malaikat. Demikian itu karena Allah telah mengilhamkan kepada jiwanya dosa dan ketakwaan, sehingga manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah berdosa. Manusia adalah tempat salah dan lupa, namun sebaik-baik orang yang salah dan alpa adalah yang segera bertaubat.

Adapun kondisi jiwa kita, yang jelas kita diperintahkan untuk selalu membersihkan yang mensucikannya. Tadzkiyatun nafs dilakukan dengan membersihkan dan membebaskan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menyandanginya dengan sifat-sifat terpuji. Bagaimana caranya? Menjalankan tilawah dan tadabbur al-Qur’an, tafakkur alam, thalabul ilmi, shalat wajib di masjid, shalat nafilah, siam, dakwah, bergaul dengan orang shalih dan sebagainya.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9-10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s