E.3. Potensi Manusia

E.3. Potensi ManusiaManusia yang kecil lagi lemah bila dibanding dengan makhluk lain yang pernah ditawari amanah kekhilafahan sebenarnya menyimpan potensi yang sangat besar. Inti dari potensinya ini tersimpan dalam pendengarannya, penglihatan, dan hatinya. Dengan ketiga potensi ini ia dapat melakukan hal-hal besar yang tidak dapat dilakukan oleh langit,bumi dan gunung-gunung. Karena itu Allah mengungkapkan ketiga potensi itu sebagai nikmat besar yang harus disyukuri. Apabila penggunaan nikmat tersebut tidak sebagaimana yang Allah kehendaki akan menyebabkan manusia terjerembab ke dalam neraka. namun ternyata banyak orang yang tidak mensukuri nikmat tersebut.

“Sesungguhnya kami jadikan untuk [isi neraka jahanam] kebanyakn dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati namun tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah; mereka mempunyai mata namun tidak dipergunakan untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah]; dan mereka mempunyai telinga namun tidak dipergunakan untuk mendengar [ayat-ayat Allah].” (al-A’raaf: 179)
TANGGUNG JAWAB

Nikmat-nikmat besar itu adalah amanah yang harus ia jaga dengan penuh tanggung jawab. Manusia akan dimintai tanggung jawab di hadapan Allah swt; apakah menunaikannya dengan amanah ataukah khianat. Sebagaimaan dikatakan pada pembahasan yang lalu, amanah itu adalah ibadah dan khilafah. Ia dikatakan amanah bila status dan kedudukannya di bumi tidak lebih dari sekedar sebagai khalifah.

PRINSIP DALAM KEKHALIFAHAN

Khilafah adalah perwakilan. Demikian itu karena manusia mendapatkan kepercayaan dari Allah untuk mewakili kekuasaan-Nya di bumi. Sebagai khalifah [wakil] ia harus memperhatikan beberapa prinsip berikut:

1. Tidak memiliki kekuasaan hakiki

Pada hakikatnya kepemilikan dan kekuasaan itu bukan milik manusia karena pemilik dan penguasa yang hakiki adalah Allah, pencipta alam semesta. Di tangan Allah-lah segala kerajaan langit dan bumi. Manusia hanya mendapat amanah untuk mengelolanya.

2. Bertindak sesuai dengan kehendak yang mewakilkan

Karena ia bukan pemilik dan penguasaan yang hakiki maka ia bertindak hanya sesui dengan kehendak pihak yang mewakilkan kepadanya yaitu Allah.

3. Tidak melampaui batas

Tindakan wakil yang menyimpang dan melampaui batas-batas yang dikehendaki pihak yang mewakilkan adalah pengkhianatan. Apabila mengkhianati amanah kekhilafahan, sesungguhnay manusia telah mencampakkan dirinya dalam kehinaan. Pengkhianatan tersebut merupakan tindakan yang sangat melampaui batas. Bahkan, al-Qur’an menyamakan mereka dengan makhluk-makhluk yang lebih rendah darinya. Di antaranya:

  • Seperti hewan ternak (al-A’raaf: 179; al-Furqaan: 43-44)
  • Seperti anjing (al-A’raf 176)
  • Seperti kera (al-Maidah: 60)
  • Seperti kayu (al-Munafiquun: 4)
  • Seperti babi (al-Maidah 60)
  • Seperti batu (al-Baqarah: 74)
  • Seperti laba-laba (al-Ankabut: 41)
  • Seperti keledai (al-Jumu’ah: 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s