E.2. Hakekat Manusia

E.2. Hakikat Manusia

Siapapun dan apapun kedudukannya, manusia harus memahami hakekat diri dan kehidupannya. Hal ini penting agar manusia dapat bersikap dan berlaku adil terhadap dirinya, terhadap Penciptanya, terhadap sesama manusia, dan terhadap makhluk-makluk lain. Beberapa hakekat yang harus dipahami diantaranya adalah bahwa dirinya:

1. Makhluk

Sebagai makhluk, ia diciptakan di atas fitrah Islam sebagaimana makhluk-makhluk yang lain. Sebagai manusia dia tidak pernah menjadi malaikat yang tercipta dari cahaya. Namun ia juga bukan iblis yang tercipta dari api. Dilihat dari fisiknya, ia termasuk makhluk lemah, memiliki banyak sekali keterbatasan dan kekurangan. Ia juga bodoh. Sepandai-pandainya manusia, ia tetap tidak dapat mengetahui rahasia yang belum Allah bukakan untuknya. Ia juga tidak dapat berdiri sendiri. Bahkan untuk kelangsungan hidupnya saja manusia sangat bergantung kepada pihak lain.

2. Mukkaram

Betapapun ia tercipta dari tanah liat atau air hina, akan tetapi Allah menghendaki agar ia menjadi makhluk yang mulia. Hanya bestatus sebagai manusia saja, orang sudah dipanggil al-mukkaram [yang dimuliakan]. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang absolut. Dengan kekuasaan-Nya, makhluk yang tercipta dari tanah itu mendapat tiupan ruh dari Allah swt. Di samping itu Allah juga memberikan berbagai kelebihan padanya. Dalam hal penciptaan, ia diciptakan dengan penciptaan yang paling sempurna. Akal merupakan kelebihannya yang paling istimewa. Bukan hanya itu, alam semesta ini pun Allah tundukkan untuknya.

3. Mukallaf

Mukallaf artinya yang dibebani. Sebagai makhluk yang telah diistimewakan dengan berbagai kelebihan, manusia tidak dibiarkan tanpa tugas dan tanggung jawab. Nikmat penciptaan dan berbagai kelebihan itu harus disyukuri dengan melakukan ibadah secara benar dengan segala ketundukan dan keihklasan kepada Allah yang telah memberikan nikmat-nikmat itu kepadanya. Potensi besar yang diberikan kepadanya itu juga dimaksudkan agar ia mampu mengelola bumi ini mewakili Allah mengatur kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. sebagai khalifah ia tidak boleh bertindak sekehendaknya.

4. Mukhayyar

Kalau Allah menghendaki, manusia diciptakan tanpa akal dan fikiran sehingga ia tidak dapat memilih apa yang hendak ia lakukan. Keistimewaan hati dan akalnya itu, manusia menjadi makhluk pilihan sehingga ia bebas memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Akal dan kebebasan ini sebenarnya adalah ujian. Bila ia menggunakan akal dan hatinya dengan baik, ia akan beriman kepada Allah. Bila ia kemudian sombong dan menutupi nikmat itu, ia akan mengidap kekafiran. Orang kafir adalah musuh Allah.

5. Majziy

Keberadaannya sebagai makhluk yang diberi kebebasan untuk memilih itu bukan tanpa konsekuensi. Sesungguhnya nikmat-nikmat yang telah dia terima sejak awal penciptaan, berbagai kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk lain, dan tugas yang dibebankan kepadanya itu akan diperhitungkan oleh Allah. Usainya keberadaan manusia di dunia, Allah akan memberikan balasan secara adil dan proporsional di akhirat berupa surga atau neraka. sebagian dari balasan itu kadang diberikan di dunia. Satu kebaikan akan mendapat balasan sepuluh kali lipat kebaikan atau berlipat-lipat sebagaimana yang Allah kehendaki. Demikian pula yang buruk, ia akan mendapat balasan yang setimpal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s