D.7. Islam sebagai Fikrah

D.7. Islam Sebagai Fikrah

Iman yang mendalam akan meningkatkan kemampuan jiwa dalam melihat persoalan, karena iman adalah pelita yang menyejukkan. Semakin tinggi keimanan, pasti makin kuat rasa kesejukannya. Maka tidak mengherankan bila mukmin dalam melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang kafir.

Dalam diri manusia terdapat potensi iman dan kufur. Selalu akan terjadi konflik yang tak pernah henti antara bashirah [mata hati] dan nafsunya. Mana yang dominan di antara keduanya, dialah yang akan mempengaruhi pandangan terhadap berbagai persoalan. Persoalan-persoalan besar yang sangat penting untuk dipahami secara benar dan lurus adalah yang menyangut tentang hakikat ketuhanan, kerasulan, ibadah, alam, manusia dan hakekat kehidupan.

Dengan iman, seorang muslim akan memperoleh ketajaman bashirah. Dalam waktu yang sama ia merujuk kepada hujjah dan argumentasi yang nyata, baik dari al-Qur’an, sunnah, maupun ilmu pengetahuan. Cahaya di atas cahaya. Ia kalahkan nafsunya. Karena itu persepsinya tentang ketuhanan, risalah, ibadah, alam, manusia, dan kehidupan adalah persepsi yang Islami. Persepsi yang Islami akan melahirkan pemikiran akan dan gagasan-gagasan yang Islami, pada akhirnya akan menghasilkan aktivitas yang Islami.

Adapun orang kafir, nafsunya menutupi bashirah dan menolak dalil, sehingga ia tidak bisa melihat hakekat dengan terang. Persoalan-persoalan yang tidak cukup dipahami dengan akal ia paksakan untuk dicerna dengan akalnya yang terbatas. Yang lebih buruk lagi adalah ternyata akalnya itupun diselimuti kabut nafsu yang pekat. Karena itu persepsinya tentang ketuhanan, risalah, ibadah, alam, manusia, dan kehidupan adlah persepsi yang keliru. Persepsi yang keliru hanya akan melahirkan pemikiran dan gagasan-gagasan yang jahiliyah [tidak Islami]. Tidak mengherankan kalau kemudian aktivitas yang mereka lakukan adalah aktifitas jahiliyah.

Sebagai orang yang telah menyatakan syahadat, seorang muslim harus memandang segala persoalan berdasarkan hujjah-hujjah yang nyata, dengan kaca mata Islam. Ia harus mendahulukan iman, dalil, dan argumentasi serta mengesampingkan nafsu. Hanya dengan itulah ia akan menjadi muslim yang baik, yaitu arah perubahan diri menuju pribadi yang utuh; persepsinya, pemikirannya, dan perbuatannya. Sebab bila nafsunya yang dominan ia hanya akan menjadi muslim secara status; persepsinya, permikirannya, dan perbuatannya masih jahiliyah.

Abu Dzar al-Ghifari, shahabat yang agung itu sempat mendapat teguran keras dari Rasulullah saw. dan disebut sebagai orang yang di dalam dirinya terdapat sifat jahiliyah. Hal itu terjadi karena ia masih memiliki persepsi yang salah tentang manusia yang bernama Bilal bin Rabab, sahabat Rasul yang suara sandalnya sudah terdengar di surga saat ia masih tinggal di dunia. Msalahanya adalah karena Abu Dzar memanggil Bilal ra sebagai anak perempuan hitam. Bukankah Allah tidak melihat wajah dan warna kulit? Bukankah orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa? Mendapat teguran keras dari Rasulullah saw. Abu Dzar menyesali perbuatannya dan minta agar Bilal membalas dengan menginjak kepalanya.

Bagaimana kepribadian itu terjadi, Ibnu Qayyim ra. menuturkan bahwa yang pertama kali muncul adalah lintasan-lintasa pemikiran, bila lintasan itu dibiarkan maka ia akan berkembang menjadi fikrah. Bila fikrah dibiarkan maka akan berkembang menjadi niat. Niat akan berkembang menjadi tekad, tekad akan menjelma menjadi perbuatan. Bila dibiarkan maka perbuatan itu akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan, lama-lama akan menjadi karakter. Pada akhirnya karakter itulah yang menjadi budaya.

Orang yang kuat lagi arif adalah orang yang dapat mengendalikan diri. Mengendalikan lintasan pikiran lebih ringan daripada mengubah kebiasaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s