D.6. Islam Sebagai Akhlak

D.6. Islam Sebagai Akhlak

Konsep akhlak Islam berangkat dari konsepsinya tentang hubungannya dengan Allah yaitu hubungan penciptaan. Allah telah menciptakan manusia dan selanjutnya Allah disebut al-Khaliq dan manusia disebut al-Makhluk. Hubungan penciptaan ini menuntut komitmen untuk mensyukuri nikmat penciptaan dengan sikap dan perilaku yang benar sesuai dengan yang dikehendaki Penciptanya. Dalam kerangka itu Allah menurunkan sistem akhlak itu kepada mereka melalui nabi dan Rasul-Rasul-Nya. Akhlak Islam menyatu dengan seluruh sistemnya. Ia ada dalam aqidah, ada dalam ibadah, syariah, bahkan dalam seni dan budaya. Tidak ada satupun sisi kehidupan muslim yang tidak terwarnai oleh aqidah dan akhlaknya. Rasulullah saw. bersabda bahwa beliau tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Akhlak ini harus selalu ditunjukkan dalam berinteraksi dengan Allah, dengan Rasul, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.

1. Akhlak kepada Allah

Inti akhlak manusia kepada Allah adalah beribadah kepada Dzat yang telah menciptakannya dalam kitab suci-Nya.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyaat: 56).

Hal ini dapat diwujudkan dengan beriman kepada-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

2. Akhlak kepada Rasul

Bagaimana mengimplementasikan sistem akhlak ini, Rasulullah saw. telah memberi contoh yang terbaik. Kewajiban muslim adalah berterima kasih kepadanya dengan cara mengimani, mengikuti ajaran yang dibawanya, menaati dan meneladaninya. Dalam hal kecintaan, hubungan muslim dengannya saw. bagai hubungan anak dengan ayahnya; dalam proses pembelajaran bagai hubungan murid dengan gurunya; dalam melaksanakan tugas bagai hubungan prajurit dengan komandannya.

3. Akhlak kepada dirinya sendiri

Allah telah memuliakan manusia dan melebihkan dirinya di atas makhluk yang lain dengan suatu kelebihan. Statusnya sebagai manusia mengharuskan orang memuliakan dirinya. Kedekatan ini dapat dilihat dari berbagai segi. Kalau orang lain saja wajib memuliakan dirinya, tentu dia sendiri lebih patut untuk memuliakan dirinya sendiri. Karena itu orang Islam tidak boleh menghina, merendahkan atau meremehkan dirinya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya dan menjauhi hal-hal yang dapat merugikan. Kalau menghormati dirinya saja tidak bisa siapakah yang akan menghormati dirinya.

4. Akhlak kepada sesama manusia

Status dan kedudukan manusia lain di hadapan muslim berbeda-beda sesuai dengan kedekatan dengan dirinya. Kedekatan ini dapat dilihat dari berbagai segi. Ada yang dekat karena aqidah, dekat bila dilihat dari sisi nasab, karena hubungan pertetanggaan, aspek kesukuan, kebangsaan, profesi dan sebagainya. Yang paling dekat di antara mereka adalah yang memiliki kedekatan aqidah. Merekalah yang paling berhak atas perlakuan baik darinya.

5. Akhlak kepada alam semesta

Hatta hewan, tumbuhan dan benda-benda matipun mendapat sentuhan akhlak Islam secara proporsional. Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah telah mewajibkan berbuat Ihsan kepada segala sesuatu, di antaranya bahkan kepada musuh sekalipun.
Hakekat pembinaan akhlak adalah membersihkan diri dari sifat-sifat tercela lalu menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s