D.5. Islam sebagai Pedoman Hidup

D.5. Islam Sebagai Pedoman Hidup

Sebagai pedoman hidup, Islam memberi konsepsi yang lengkap dan sempurna tentang seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu sisi kehidupan pun yang terlewati dari pembahasannya. Demikian itu karena kitab sucinya adalah wahyu yang diturunkan Allah Yang Mahaluas pengetahuan-Nya.

“Tidaklah Kami lewatkan sesuatu pun dalam kitab itu.” (al-An’am: 38)

Sebagai pedoman hidup yang integral dan menyeluruh ia meliputi konsepsi yang benar tentang:

1. Masalah keyakinan

Keyakinan tentang Tuhan, nama-nama dan sifat-Nya, kekuasaan-Nya di langit dan di bumi, wewenang-Nya, hak-hak-Nya, pengawasan-Nya, pembalasan-Nya di dunia dan di akhirat, tentang nabi dan rasul, tentang alam ghaib, malaikat, jin, iblis, setan, tentang kehidupan sesudah mati, alam barzakh, kebangkitan, hisab, surga, neraka, dan masalah-masalah ghaib lainnya yang hanya akan benar kalau datang dari Allah. Keyakinan tentang hal-hal demikian apabila bukan berdasarkan wahyu hanya akan menyesatkan manusia dan menjadikan mereka sebagai budak bagi sesama makhluk. Sebagaimana tersebut dalam surah al-Baqarah: 255.

2. Masalah /akhlak

Moral/ akhlak manusia terhadap Allah, terhadap dirinya, terhadap sesama manusia, maupun terhadap alam semesta hanya akan benar dan lurus apabila ia memiliki keyakinan yang benar tentang Allah dan hari akhir. Demikian itu karena aqidah akan membentuk kesadaran untuk selalu berbuat baik dan menghindari perbuatan yang tidak terpuji, bahkan ketika ia sendang sendirian sekalipun. Moral yang tidak didasarkan kepada aqidah yang lurus seringkali hanya merupakan kemunafikan dan bersifat temporal, karena memang tidak jelas standarnya. Adapun akhlak Islam sudah jelas dan lugas, yakni al-Qur’an. Sebagaimana tersebut dalam surah al-A’raaf: 96 dan ar-Ra’du: 28.

3. Tingkah laku

Tingkah laku terimplikasi pada aspek psikomotorik. Ia sangat diwarnai dan ditentukan oleh aqidah dan akhlak. Tidak ada perbedaan antara aspek lahir dan batin kecuali orang munafik. Demikian itu karena tingkah laku adalah bentuk implementasi dan ejawantah dari fikiran dan jiwa manusia. Ketika melihat orang shalat tetapi anggota badannya tidak khusu’, Rasulullah saw. bersabda: “Sekiranya hati orang ini khusyu’, tentu khusyu’ pula anggota badannya.” Sebagaimana pula tersebut di dalam surah al-Baqarah: 138.

4. Perasaan

Suka dan duka, cinta dan benci, sedih dan gembira, sensitif atau tidak, juga sangat dipengaruhi oleh aqidah dan akhlak. Karena itu Rasulullah saw. mengatakan bahwa di antara kesempurnaan iman seseorang adalah ketika seseorang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi atau tidak memberi karena Allah. Dalam materi maksan syahadatain telah dibicarakan bahwa di antara konsekuensinya adalah mencintai apa dan siapa yang dicintai Allah serta membenci apa dan siapa yang dibenci Allah. Sebagaimana tersebut dalam surah asy-Syu’araa’: 192-195 dan ar-Ruum: 30.

5. Tarbawi [pendidikan]

Setiap orang membutuhkan pendidikan untuk mencapai kesempurnaannya. Di samping itu ia juga menghendaki agar anak keturunannya dapat meneruskan tugas dan perjuangannya. Karenanya ia melakukan pendidikan untuk mereka. Secara sadar atau tidak, setiap masyarakat melakukan proses pendidikan ini dengan kualitas dan intensitas yang berbeda. Islam sebagai pedoman hidup juga harus dipahami dengan baik dan diwariskan pemahamannnya kepada generasi penerus agar mereka tidak sesat. Tentunya proses tersebut hanya berhasil melalui pendidikan. Sebagaimana tersebut dalam surah al-Baqarah: 151 dan Ali ‘Imraan: 164.

6. Sosial

Dalam hidup ini manusia tidak dapat berdiri sendiri. Karena keterbatasannya ia selalu membutuhkan pihak lain. Ia butuh berdialog, bekerja sama, saling membantu, dan tolong menolong. Interaksi sosial inipun tidak lepas dari sentuhan Islam. Islam mengatur sedemikian rupa sehingga tercipta hubungan sosial yang harmonis, penuh kasih sayang, dan bebas dari permusuhan. Sebagaimana tersebut dalam surah An-Nuur: 2-10

7. Politik

Manusia diciptakan sebagai khalifah Allah di bumi. Karena itu kehidupan tidak akan pernah lepas dari masalah politik, baik sebagai subyek maupun sebagai obyek. Politik yang tidak didasarkan pada aqidah dan akhlak selalu hanya merupakan cara untuk meraih kekuasaan dengan segala cara. Sejarah telah mencatat bahwa banyak penguasa yang berlaku dhalim kepada rakyatnya. Bahkan ada di antara mereka yang mengklaim dirinya sebagai tuhan lantas memperlakukan rakyatnya dengan kejam. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Allah sendiri, padalah Dialah yang menciptakan dan memberi rizky kepada mereka. Dengan Islam, Allah mengatur sebagaimana seharusnya politik dan berpolitik itu. Sebagaimana tersebut dalam surah Yusuf: 40.

8. Ekonomi

Untuk bertahan hidup, manusia melakukan kegiatan ekonomi, bercocok tanam, berdagang, dan profesi lainnya. Allah telah menciptakan mereka untuk saling tergantung kepada orang lain. Orang kaya membutuhkan orang miskin, dan sebaliknya. Orang pintar membutuhkan orang bodoh dan orang bodoh juga membutuhkan orang piintar dan seterusnya. Ini menuntut mereka untuk menghormati dan menghargai orang lain, siapapun dan apapun kedudukan dan profesinya. Islam mengatur agar motifasi ekonomi itu tidak mendorong mereka untuk mengeruk keuntungan besar sesaat namun menimbulkan kerugian besar dalam waktu yang lama. Sebagaimana tersebut dalam surah at-Taubah: 60.

9. Militer

Karena kepentingan politik, sosial, dan ekonomi, manusia kemudian menyiapkan kekuatan untuk memperoleh dan mempertahankannya. Nafsu manusia yang menjerumuskan selalu didukung oleh setan agar mereka melakukan kejahatan, atau bahkan pengrusakan dalam mencapai tujuannya. Karena itu dunia tidak pernah sepi dari konflik antar pemilik kebenaran dan pemilik kebathilan karena al-haq dan al-bathil tidak akan pernah bertemu. Untuk itu Islam mewajibkan kepada pemilik kebenaran untuk bersiap siaga, menyiapkan kekuatan, dan berjihad membela kebenaran dan memerangi kebathilan. Bahwa jihad merupakan jalan pintas menuju surga. Sebagaimana tersebut dalam surah al-Anfaal: 60.

10. Peradilan.

Termasuk dalam kaitan ini adalah masalah hukum dan perundang-undangan, baik perdata maupun pidana. Karena dibuat oleh manusia yang tidak lepas dari nafsu dan keterbatasan, undang-undang dan hukum positif selalu menyimpan berbagai kekurangan dan subyektivitas. Selain itu karena ia telanjang dari aqidah dan moral, seringkali hukum dipakai untuk legitimasi bagi kecurangan dan keberpihakan oknum. Islam mewajibkan umatnya untuk berlaku adil, hatta terhadap dirinya sendiri dan terhadap keluarganya. Ini tidak mungkin bila orang tidak merasa bahwa apa yang ia ucapkan dalam peradilan dicatat oleh Allah dan akan mendapat balasan di akhirat. Keyakinan akan hari akhirat inilah yang mendorong mukmin untuk senantiasa adil, bahkan mereka minta dihukum di dunia bila khilaf. Baginya, hukum di dunia tidak seberapa bila dibanding dengan hukuman di akhirat. Sebagaimana tercantum dalam surah al-Anfaal: 60.

Demikian pula sisi-sisi kehidupan manusia yang lain. Semuanya tidak lepas dari pedoman hidup yang diturunkan oleh Allah, Tuhan semesta alam yang merupakan wujud dari pemeliharaan atas makhluk-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s