D.2. Islam dan Sunnatullah

D.2. Islam dan Sunnatullah

Allah swt. yang telah menciptakan alam semesta ini telah memutuskan dalam takdir-Nya berbagai ketentuan atas seluruh makhluk. Berdasarkan sifatnya, takdir itu dapat diklasifikasikan menjadi takdir kauni yang sering disebut juga sebagai sunnatullah fil kaun [ketentuan/hukum alam] dan takdir syar’i [ketentuan hukum]. Takdir kauni berlaku umum bagi seluruh makhluk di alam ini tanpa kecuali, tak ada yang dapat menghindar. Pada ketentuan inilah segala yang ada di langit dan di bumi tunduk kepada Allah swt. dengan suka rela atau terpaksa. Ketentuan syar’i pasti senada dan selaras dengan ketentuan kauni. Ketentuan syar’i menghendaki agar makhluk tunduk, sujud, tasbih, dan tahmid kepada Allah al-Khaliq. Aturan-aturan syar’iyah itu disebutkan Islam yang diturunkan melalui para rasul untuk manusia. Berbeda dengan takdir kauni [makhluk tak punya pilihan], takdir syar’i memberi peluang kepada manusia dan jin untuk memilih namun dengan konsekuensi bahwa mereka akan mendapat balasan sesuai dengan pilihannya. Karena itulah dalam perkembangannya sikap mereka tidak sama. Yang menerimanya disebut muslim karena ia tunduk dan patuh sebagaimana sikap alam semesta terhadap takdir kauni. Yang menolaknya disebut kafir karena ia menutupi nikmat Allah yang diberikan kepadanya dengan kesombongan dan pembangkangan.

Kewajiban Patuh kepada Sunnatullah

Baik takdir syar’i maupun takdir kauni, semuanya diberlakukan di alam ini demi keselarasan dan keharmonisan hidup setiap makhluk, agar ia menjalani kehidupan ini sesuai dengan ketentuan yang sudah digariskan dan tidak melewati batas-batas. Sikap yang dilakukan manusia terhadap ketentuan ini harus sejalan dengan sikap alam semesta yaitu tunduk dan berserah diri kepada sunnatullah.

Meskipun manusia merupakan bagian dari alam semesta ini, namun karena dijadikan sebagai pengelola yang diberi akal dan nafsu, kadang sifatnya tidak selalu taat kepada sunnatullah itu. Karena ia dalah makhluk yang istimewa, kadang ia merasa congkak dan sombong. Kedudukan manusia yang lebih tinggi [potensi dan kemampuannya yang berbeda] menuntut ketentuan tambahan yang tidak sama dengan ketentuan yang diterapkan pada alam [diciptakan sebagai fasilitas hidupnya]. Dalam kerangka itulah kemudian kita menemukan sunnatullah pada alam semesta dan sunnatullah pada manusia.

Sunnatullah di alam semesta

Ketentuan Allah terhadap alam semesta bersifat mutlak, tetap, dan terus menerus. mutlak karena ia berlaku umum bagi seluruh makhluk dan tidak dapat ditolak. Tetap karena tidak berubah kecuali apabila Allah menghendaki untuk menunjukkan kekuasaan-Nya sebagaimana yang terjadi pada mukjizat dan karamah. Terus-menerus, karena tidak berhenti selama ada fariabel dan sebab-musababnya. Sunatullah yang demikian disebut faktor kauni yang disikapi dengan ketundukan dan pasrah. Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan menyebabkan akibat fatal yang dapat dirasakan langsung atau tidak langsung, sekarang atau yang akan datang.

Sunnatullah pada Manusia

Di samping berlaku sunnatullah sebagaimana di atas, manusia mendapat hidayah. Manusia juga diberi nafsu yang memiliki kemampuan untuk berkehendak dan akal yang memiliki kemampuan untuk memilih. Ketentuan syar’i dimaksudkan untuk memagari nafsu dan kebebasannya agar tidak menyebabkan terjadinya kerusakan pasa sistem global di alam semesta ini. Terjadinya ketentuan inilah manusia terbagi menjadi dua golongan, muslim dan kafir. Ketaatan atau pelanggaran terhadap ketentuan ini akan mendapat konsekuensi hukum di dunia dan atau di akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s