C.2. Definisi Rasul

C.2. Definisi Rasul

Secara bahasa rasul berarti utusan. Siapa saja yang diutus pihak lain, secara bahasa disebut rasul. Dalam istilah syar’i rasul adalah lelaki pilihan yang diutus Allah dengan membawa risalah kepada umat manusia. Hanya hamba pilihan saja yang Allah angkat sebagari utusan-Nya, baik berupa malaikat maupun manusia sebagaimana difirmankan dalam surah al-Hajj ayat 75.

Namun bagaimanapun istimewanya, rasul tersebut tidak pernah menjadi tuhan, tidak pernah mengaku sebagai tuhan, dan tidak mau dipertuhankan. Karena tidak ada tuhan selain Allah. Ia adalah manusia biasa yang tidak lepas dari sifat-sifat kemanusiaan.

“Kami tidak pernah mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka juga memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (al-Furqan: 20)
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kamu, yang mendapat wahyu bahwa tidak ada tuhan selain Allah.’” (al-Kahfi: 110)
“Sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa. Sungguh kalian mengangkat perkara kepadaku, boleh jadi sebagian kalian lebih pintar mengemukakan alasan-alasannya dibanding yang lain sehingga aku menangkan perkaranya sebagaimana yang aku dengar….’” (Muttafaqun ‘alaih)

Fungsi Rasul

1. Membawa risalah dari Allah
Ia diberi amanah untuk menyampaikan apa saja yang Allah kehendaki kepada umat manusia, tidak menambah atau pun mengurangi.

2. Teladan dalam menetapkan risalah
Manusia membutuhkan figur yang dapat memberi contoh dan teladan dalam mempraktekkan aqidah dan syari’ah yang Allah kehendaki. Karena itu rasul diambil dari manusia. Sekiranya ia diambil dari malaikat, tentu manusia tidak akan mampu meneladaninya. Orang kafir tidak mau beriman karena rasul berasal dari kalangan manusia. Benarkah mereka akan beriman jika rasul berasal dari malaikat? Bahkan, dapatkah mereka hidup tenang? Perhatikan surah al-Israa’ ayat 94-95 yang artinya:

“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali Perkataan mereka: ‘Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?’ Katakanlah: ‘Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang Malaikat menjadi Rasul.’”

Kenabian dan kerasulan adalah karunia Allah, diberikan kepada siapa saja diantara hamba-hamba-Nya yang Allah kehendaki. Karena kedudukannya yang mulia itu maka kemudian banyak manusia yang mengklaim sebagai nabi. Padahal yang telah diangkat sebagai rasul saja tidak pernah memimpikannya. Agar tidak keliru dan sesat, harus dikenali tanda-tanda kerasulan itu. Yaitu:

a. Memiliki sifat-sifat asasi sebagai rasul yang dengan itu ia layak menjadi orang yang menerima kehormatan amanah dari Allah. Sifat-sifat itu lebih pada kredibilitas moral dan kemampuan intelektual yaitu shidiq [jujur], amanah, tabligh [menyampaikan], fathanah [pintar], disamping sifat-sifat pendukung yang lain.

b. Mendapat mukjizat, yaitu hal luar biasa yang Allah tujukan kepada umat manusia melalui dirinya. Mukjizat ini tidak diminta dan tidak dipelajari. Mukjizat terjadi atas kehendak Allah untuk menunjukkan kekuasaan Allah dan kebenaran ajarannya.

c. Bisyarah, yaitu berita akan kedatangannya yang disampaikan oleh nabi-nabi sebelumnya di dalam kitab suci mereka.

d. Nubuat, yaitu bahwa ia menyampaikan berita-berita ghaib tentang ha-hal yang akan terjadi di kemudian hari.

e. Hasil [pencapaian], yaitu pencapaian gemilang nan sempurna yang hanya dapat dicapai oleh para rasul. Demikian itu karena ia adalah teladan yang memberi contoh terbaik. Contoh yang diberikannya adalah teladan yang paling ideal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s