C.1. Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul

C.1. Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul

Allah telah menciptakan manusia di atas fitrahnya. Hal ini termaktub dalam kitab suci-Nya dan disabdakan oleh Rasul-Nya.

“..[tetaplah atas] fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (ar-Ruum: 30)
“Sesungguhnya setiap anak dilahirkan dengan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau majusi.” (HR Muslim)

Maksudnya adalah bahwa Allah menciptakan manusia dalam kondisi fitrah dengan sifat-sifat dan karakteristik dasar yang asli. Secara fitri manusia telah memiliki kesadaran tentang adanya Rabb yang telah menciptakan dirinya dan alam semesta hanya kita daptkan pada wahyu karena keberadaan manusia sebelum lahir ke dunia adalah masalah ghaib. Padahal hanya Allah lah yang mengetahui keghaiban. Al-Qur’an menginformasikan bahwa Allah telah mengambil sumpah adak-anak Adam saat mereka masih berada di “tulang sulbi ayah” mereka.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Benar [Engkau Tuhan kami], kami menjadi saksi.” (al-A’raaf: 172)

Hal yang demikian ini Allah lakukan agar kelak nanti di hari kemudian mereka tidak memungkiri. Sampai saat ini tidak ada manusia yang mengklaim telah menciptakan alam semesta. Sebenarnya semua manusia mengakui bahwa Tuhannya yang telah menciptakan alam raya ini. Bahkan termasuk kaum atheis pun tidak dapat membuktikan bahwa alam ini terjadi tanpa Pencipta pertama yang telah menciptakan sebab-sebab dan mengatur akibat-akibat.

Karena manusia mengakui kebenaran al-Khaliq maka secara fitrah manusia juga memiliki kecenderungan untuk menyembah Allah swt. sebagai wujud syukur atas nikmat hidup, rizky, dan pemeliharaan yang telah diterimanya. Penyembahan manusia pada sesuatu yang tidak pernah menciptakannya merupangan penyimpangan atas fitrah tersebut. Penyimpangan ini terjadi karena pengaruh eksternal berupa godaan setan yang selalu berusaha menyesatkan manusia sehingga ia menyembah hal-hal yang ditakuti, yang besar, yang aneh, yang luar biasa, bahkan ada pula manusia menyembah dirinya sendiri.

Secara fitri manusia juga menginginkan kehidupan yang teratur, selaras dan harmonis. Manusia pasti tidak menginginkan kerusakan, kesemrawutan, dan kekacauan. Manusia ingin hidup tenang, dan damai dalam naungan kasih sayang dan cinta kasih. Manusia tidak ingin hidup dengan kondisi jiwa terancam. Namun setan selalu berusaha menimbulkan kekacauan dan keributan di antara manusia sehingga mereka pun bermusuhan dan saling bunih.

Fitrah yang suci itu apabila terawat dengan baik dan mendapatkan bimbingan yang benar maka akan melahirkan kebaikan bagi diri manusia dan alam semesta. Namun adakalanya setan menculik mereka sehingga mereka pun berbuat kemusyrikan , menghalalkan hal-hal yang Allah haramkan, dan mengharamkan hal-hal yang Allah halalkan. Untuk merawat fitrah, melawan nafsu, dan memerangi setan itu manusia membutuhkan petunjuk dan bimbingan Allah. Akan tetapi Allah Yang Maha Ghaib tidak dapat ditemuinya secara langsung bahkan ia sendiri tak kuasa untuk berhadapan langsung dengan-Nya. Karena itulah Allah mengutus para utusan berupa malaikat dan manusia pilihan untuk memberi petunjuk dan bimbingan kepada manusia bagaimana mengenal penciptanya dan bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik. Karena itu, para Rasul diberi wahyu sebagai pedoman hidup yang terjamin kebenarannya. Dengan pengenalan dan pedoman hidup yang terjamin kebenarannya itu manusia dibimbing untuk melakukan ibadah yang benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s