B.14. Lakukan Hanya Yang Terbaik

B.14. Lakukan Hanya yang Terbaik

Orang yang lurus aqidahnya dan bersih jiwanya selalu merasakan adanya muraqabatullah [pengawasan Allah]. Kapan dan dimanapun, ia merasa dalam penglihatan, pendengaran, dan penilaian-Nya. Ihsan dalam hadits Jibril dikatakan oleh Rasulullah saw.:
“Kau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun kau tidak melihatnya sesungguhnya ia melihatmu.”

Dalam waktu yag sama ia merasakan betapa Allah selalu berbuat baik kepadanya. Ia merasakan nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya secara langsung maupun tidak langsung, ia ketahui maupun tidak ia ketahui, disadari ataupun tidak disadari.

Kedua perasaan ini membuatnya selalu berusaha untuk mengatur niatnya menjadi yang terbaik. Niat yang baik akan mempengaruhi ketulusan hatinya. Dalam hal ini ia berusaha untuk mengikhlaskan perbuatannya lillaahi ta’ala, mencari keridlaan Allah semata. Ia jadikan amal perbuatan duniawinya bernilai ukhrawi dengan memperbaiki niat.

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya [akan diterima] sebagai hijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ia cari atau karena wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju.” (HR Bukhari-Muslim)

Niat akan mempengaruhi cara dan proses kerjanya. Bagi seorang mukmin, niat yang ikhlas saja tidak cukup. Seorang mukmin akan berusaha melakukan kerja yang terbaik dan sempurna, dengan kualitas yang terbaik. Demikian itu karena kerja dalam pandangannya merupakan wujud syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dirasakan. Baginya, kesempatan dan pekerjaan itu sendiri merupakan nikmat yang harus disyukuri, kemampuan untuk bekerja juga merupakan nikmat. Ia melalukan kerja itu dengan mengharap upah yang lebih besar dari Allah. Upah dari manusia yang memberinya order tidak seberapa bila dibandingkan dengan upah yang Allah berikan kepadanya, baik berupa keberkahan di dunia maupun pahala di akhirat.

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Karena itu apabila kalian membunuh musuh, lakukanlah yang terbaik dalam pembunuhan itu. Apabila kalian menyembelih hewan, lakukanlah yang terbaik terhadap sembelihan itu, hendaklah seseorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menghibur hewan sembelihannya.”

Sebelum itu dengan bahasa instruksi Allah berfirman,

“Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik terhadapmu.” (al-Qashshash: 77)

Bila itu yang ia lakukan, ia akan mendapat balasan dari Allah yang lebih baik. Bentuk balasan Allah itu berupa:

1. Cinta dari Allah

Sesungguhnya Allah apabila telah mencintai seorang hamba, Ia akan mengatakan kepada Jibril bahwa Allah mencintainya [si fulan]. Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil penduduk langit bahwa Allah mencintai si fulan, sehingga penduduk langit pun mencintai si fulan.

2. Pahala dari Allah
“Karena itu, Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali ‘Imraan: 148)
3. Pertolongan (Kemenangan) dari Allah
Pertolongan Allah benar-benar besama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (an-Nahl: 128)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s