B.13. Kesertaan Allah

B.13. Kesertaan Allah

Segala puji bagi Allah, MahaPemurah dan Pengasih. Sebagai Rabbul ‘aalamiin, Allah selalu menyertai makhluk-Nya, baik dalam pengawasan, penglihatan, pendengaran, maupun rizky dan nikmat yang diberikan-Nya. Karena itu dapat dikatakan bahwa kesertaan Allah bersifat umum dan mutlak. Akan tetapi, tentu tidak adil jika perlakukan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang taat sama dengan perlakuan-Nya kepada mereka yang maksiat. Demikian itu karena sikap mereka terhadap Allah juga berbeda. Berdasarkan sikap yang diberikan makhluk kepada khaliqnya, manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok:

1. Mukmin.

Ia adalah orang yang beriman kepada Allah dan rukun-rukun iman lainnya. Keimanannya kepada Allah dan hari akhir menjadikannya selalu merasakan pengawasan Allah dalam dirinya. Disamping itu dia juga sangat menyadari bahwa Allah telah berlaku sangat baik kepadanya [ihsanullah] dengan nikmat-nikmat yang tidak terhitung, yang selalu diberikan kepadanya. Orang ini juga selalu membalas kebaikan dengan kebaikan. Nikmat Allah yang ia terima itu disikapinya dengan syukur, meskipun syukurnya itu jelas sangat tidak sebanding dengan nikmat yang ia terima. Allah sendiri Mahatahu bahwa hamba-Nya tidak akan dapat membalas nikmat-Nya akan tetapi Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Berterimakasih [Allaahu gharuurun syakuur/ Allah Mahapengampun lagi Mahaberterima kasih]. Allah akan selalu membalas syukur dan kebaikan hamba-Nya itu dengan kesertaan yang lebih melekat dalam bentuk bimbingan dan perlindungan. Di samping itu, Allah swt juga akan menambah kebaikan kepadanya dalam bentuk nikmat hidayah dan kemudahan hidup.

Mensikapi semua itu, seorang mukmin selalu berusaha untuk melakukan ketaatan berupa iman yang selalu ia tingkatkan kualitasnya dan amal shalih dengan kuantitas yang lebih besar dan kualitas yang lebih tinggi. Inilah syarat untuk mendapatkan kesertaan Allah yang lebih spesifik. Kesertaan spesifik dan bersyarat yang dimaksud adalah dukungan-Nya. dengan dukungan-Nya itu orang yang beriman akan mendapatkan kemenangan dan keberuntungan.

“Ketahuilah bahwa tentara Kami, mereka itulah orang-orang yang menang.”
2. Kafir

Berbeda dengan mukmin, orang kafir menyikapi nikmat Allah dengan kekufuran. Ia mengingkari nikmat Allah yang ia terima setiap saat, ada di antara mereka yang tidak pernah mengakui nikmat itu bahkan ada pula yang dengan angkuh dan sombong merampas hak-hak Allah. Ada yang mengaku sebagai tuhan atau memperlakukan sesama manusia dengan perlakuan yang bahkan tidak pernah dilakukan oleh Tuhan sendiri. Ia lalai terhadap hak-hak Allah kemudian melalalikan hak orang lain. Kemaksiatan dan kemaksiatan saja yang ia lakukan.

Karena sikapnya yang demikian itu, Allah tidak memberikan dukungan kepadanya. Akibatnya, ia hanya akan mendapatkan kerugian, kepahitan, dan kekalahan. Kalaupun di dunia ia mendapatkan kemenangan, maka kemenangan itu hanyalah istidraj [penundaan]. Maksudnya adalah bahwa Allah mengulur pembalasan-Nya hingga ketika telah banyak kemaksiatan yang dilakukan, dan telah tiba saat yang tepat untuk menyiksanya, maka keputusan Allah tak dapat terhindarkan.

“Kalau Allah menolongmu maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi bila Allah membiarkanmu [tidak menolongmu], maka siapakah yang dapat menolongmu selain Allah?” (Ali ‘Imraan: 160)

“Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 63)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s