B.12. Konsekuensi Cinta

B.12. Konsekuensi Cinta

Cinta kita pada sesuatu menuntut kita untuk mencintai apa yang dincintainya dan membenci apa yang dibencinya. Kebencian kita pada sesuatu yang dicintainya akan menjadikan kebenciannya kepada kita. Cinta kita pada sesuatu yang dibencinya juga akan menjadikan kebenciannya pada kita. Adalah lazim dalam tradisi cinta mencintai bahwa kekasih senantiasa berusaha menyatu dengan kekasihnya. Ia merasakan apa yang dirasakan oleh kekasihnya. Ia sedih dengan kesedihannya, ia bahagia dengan kebahagiaannya, menderita dengan penderitaannya, ia gembira dengan kegembiraannya.
Konsekuensi cinta lebih lanjut akan diuraikan berikut ini:

1. Mencintai siapa yang dicintai sang kekasih

Mencintai siapa saja yang dicintai kekasih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari cinta kepada kekasihnya itu. Lafadz man [siapa] biasanya digunakan untuk yang berakal meskipun kada ada juga sebagian orang yang menggunakannya untuk yang tidak berakal. Penggunaan lafadz man untuk orang yang tidak berakal biasanya terjadi dalam personifikasi pada karya-karya sastra baik prosa maupun puisi. Al-Qur’an sendiri kadang menggunakan lafadz ini untuk yang tidak berakal. Mereka yang dicintai Allah adalah para malaikat-Nya, para nabi dan rasul, para shiddiqiin, syuhada, dan shalihin (an-Nisaa’: 69)

2. Mencintai apa yang dicintai oleh kekasih

Ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari cintanya kepada kekasihnya itu. Lafadz maa [apa] biasanya digunakan untuk yang tidak berakal meskipun kadang ada juga sebagian orang yang menggunakannya untuk yang berakal. Penggunaan lafadz maa untuk yang berakal biasanya terjadi dalam karya-karya sastra baik prosa maupun puisi bahkan al-Qur’an sendiri kadang menggunakan lafadz ini untuk yang berakal.

Mencintai apa dan siapa pun yang dicintai dalam konteks cinta kepada Allah, tidak terlepas dari kalimat tauhid bagian kedua (materi A.4). Kata wala’, mempunyai pengertian bahwa orang yang mencintai Allah sudah barang tentu mencintai apa dan siapa saja yang memiliki hubungan wala’ tersebut [cinta, loyalitas, solidaritas, kepemimpinan, perlindungan, keberpihakan, pembelaan, ketaatan dan sejenisnya]

3. Membenci siapa saja yang dibenci sang kekasih

Sebagaimana cinta, kebencian kekasih juga ditujukan kepada pihak-pihak yang dibenci kekasihnya. Dalam konteks cinta kepada Allah, kebencian mukmin ditujukan kepada siapa saja yang tidak berpihak kepada Allah yaitu iblis dan syaitan [baik dari kalangan jin maupun manusia]. Bahkan Allah secara eksplisit menyuruhnya untuk menjadikan syaitan sebagai musuh.

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, karena itu jadikanlah ia sebagai musuhmu. Sesungguhnya setan-setan itu hanya menyeru kelompoknya agar mereka menjadi bagian dari penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
4. Membenci apa yang dibenci oleh kekasih

Dalam konteks cinta kepada Allah, seorang mukmin harus membenci apa yang dibenci oleh Allah berupa kemungkaran, kemaksiatan, kedhaliman, kefasikan, kemunafikan, dusta, kebodohan, kesesatan, kemusyrikan, dan kerusakan-kerusakan lainnya. Barangkali kata fasad [kerusakan] ini merupakan istilah yang dapat merepresentasikan segala hal yang dibenci Allah.

“Padahal Allah tidak menyukai kerusakan.” (al-Baqarah: 205)

Termasuk implementasi dari kalimat tauhid bagian pertama  (lihat materi A.4) adalah bara’ [berlepas diri dan tidak berpihak kepada siapa dan apa saja yang dibenci Allah].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s