B.11. Tingkatan Cinta

B.11. Tingkatan Cinta

Tidak dipungkiri, cinta akan membawa dampak terjadinya penghambaan dari yang mencintai kepada yang dicintainya. Secara fitri manusia sebagai makhluk mencintai Al-Khaliq, Allah. Namun tidak dipungkiri pula bahwa ada sekadar hubungan cinta manusia kepada selain Allah. Melihat dampaknya yang demikian besar maka manusia [apabila ia adalah muslim] harus menata cintanya dengan baik. Jangan sampai cinta kepada sesuatu menyebabkan terjadinya keburukan pada dirinya maupun pihak lain.

Setiap yang dikenalnya akan mendapatkan sentuhan cinta darinya. Allah sebagai Tuhannya, Rasulullah saw. sebagai Nabinya, Islam sebagai agamanya, mukmin sebagai saudara seiman, muslim yang merupakan saudara seagama, manusia yang merupakan saudaranya sesama manusia, dan alam sekitar dimana dia hidup, semua mendapat bagian tertentu dari cintanya itu. Sudah barang tentu, cintanya kepada semua itu tidak akan sama besar. Cinta tertinggi diberikan kepada Allah. Cintanya kepada yang lain adalah dalam rangka cinta kepada Allah. Melihat dampak yang akan terjadi dalam cinta itu, berikut ini dibicarakan tingkatan-tingkatannya:

  1. Hubungan terendah dalam cinta adalah hubungan biasa-biasa saja. cinta dengan tingkat ini diberikan kepada materi maupun fasilitas hidup di dunia, baik itu hewan, tumbuhan maupun benda-benda lainnya. Semua materi yang ada di langit dan di bumi Allah ditundukkan untuk manusia sebagai fasilita hidup dalam rangka ibadah kepada-Nya.
  2. Cintanya kepada sesama manusia ada pada tingkat ‘athf [simpati]. Dengan cinta ini dia dakwahi sesama manusia agar mereka selamat di dunia dan di akhirat, terhindar dari hal-hal yang tidak baik.
  3. Shabaabah [empati] diberikan kepada manusia yang muslim lagi mukmin. Disini dia merasakan adanya hubungan persaudaraan dengannya.
  4. Asy-syauq [kerinduan] diberikan kepada manusia yang muslim lagi mukmin. Kepada merekalah kedekatan cinta dan kasih sayang diberikan.
  5. Cinta kepada Rasul tidak sampai ke tingkat penghambaan. Cinta kepada Rasul saw. dan Islam yang diajarkannya ada pada tingkat ‘isyq [kemesraan] yang diwujudkan dengan menteladaninya.
     “Katakanlah hai Muhammad, jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”(an-Nisaa’: 31)
  6. Cinta tertinggi kalau terjadi tatayyum [penghambaan] dimana seseorang akan menghamba dan menyembah apa yang ia cintai. Cinta dengan tingkat semacam ini hanya boleh diberikan kepada Allah.

Hubungan dengan tingkat perasaan cinta yang tertinggi, sudah barang tentu meliputi perasaan dan tingkat cinta di bawahnya. Sebaliknya, cinta kepada sesuatu yang ada di bawahnya tidak boleh melebihi cinta dan perasaan dan tingkat yang diberikan kepada yang di atasnya. Cinta kepada materi misalnya tidak boleh sampai pada tingkat simpati yang kemudian ditindaklanjuti dengan ajakan, apalagi tujuan. Manusia memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding materi. Memberikan cinta kepada materi dengan tingkat simpati yang kemudian dilanjutkan dengan ajakan adalah perbuatan sia-sia.

Hakikat ini Allah ungkapkan dalam kitab suci-Nya dalam mengkritik kaum musyrikin:

“Dan tuhan-tuhan yang kalian seru [sembah] selain Allah tiada memiliki walaupun hanya sehelai qithmiir [kulit ari yang ada pada biji-bijian]. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak dapat mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat mengabulkan permintaanmu.” (Fathir: 13-14)

Dengan ini dapat dimengerti betapa bodoh dan sesatnya orang yang memberikan cinta kepada materi dunia sampai pada tingkat menghamba dan menyembah. Na’udzubillaah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s