C.3. Kedudukan Rasul

C.3. Kedudukan Rasul

Syahadat rasul yang kita ucapkan menuntut kita untuk mengakui bahwa Muhammad bin Abdullah adalah nabi dan utusan Allah. Pengakuan akan kenabian dan kerasulannya harus dibarengi dengan sikap proporsional, tidak berlebihan, namun juga tidak mengurangi hak-haknya. Beliau saw. melarang ketika ada sebagian shahabat yang memperlakukannya secara berlebihan seraya menjelaskan kedudukan yang sebenarnya dengan sabdanya: “Aku adalah hamba Allah dan rasul-Nya. karena itu panggillah aku Abdullah wa RasuluHu.”

1. Hamba Allah

Dengan sebutan sebagai hamba Allah di antara hamba-hamba Allah yang lain, beliau menanamkan prinsip egaliter. Beliau ingin diperlaukan sebagai manusia biasa biasa betapapun beliau adalah manusia pilihan yang lahir dari keturunan pilihan, dan memiliki fisik yang sempurna. Hal itu supaya tidak ada alasan untuk diperolok-olok atau didustakan. Tentang ini dapat kita pelajari lewat sejarah hidupnya.

2. Utusan Allah

Dengan kedudukan ini beliau menjadi manusia yang paling istimewa dengan risalah-Nya yang memiliki tugas:
a. Menyampaikan risalah pada umatnya
b. Menunaikan amanah, karena risalah ini tidak lain adalah titipan yang harus ditunaikan sebagaimana dikehendaki sang pemberi amanah.
c. Memimpin umat

Kedudukan ini mewajibkan beliau untuk melakukan dakwah ilallah, mengajak seluruh umat manusia untuk mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, membebaskan mereka dari penghambaan kepada sesama makhluk dan menghamba hanya kepada al-Khaliq

Syahadat rasul mewajibkan setiap muslim untuk mengikuti dan meneladani Rasulullah saw. dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah maupun sebagai rasul. Di kala beliau masih hidup, keteladanan itu dapat disaksikan langsung. Setelah beliau wafat, keteladanan itu dapat kita temukan dalam sunnah yaitu riwayat tentang beliau berupa ucapan, perbuatan, dan taqriir-nya.

Dalam sunnah akan kita temukan:

1. Sejarah perjalanan hidup Rasulullah saw. (sirah nabawiyah)
Yaitu riwayat yang mengutarakan perjalanan hidup beliau sebagai manusia sejak sebelum lahir hingga wafatnya. Mempelajarinya merupakan ibadah karena dengannya keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya akan semakin kuat.

2. Hukum-hukum.
Syariat telah menentukan apa yang halal dan apa yang haram. Yang dibiarkan tidak perlu dipertanyakan. Pemahaman kita terhadap hukum-hukum ini penting agar ibadah kita bersihh dari bid’ah dan khurafat.

3. Konsep dakwah
Pemahaman yang mendalam terhadap sunnah juga memberikan konsep yang benar dalam mendakwahkannya –disamping memberi gambaran yang utuh tentang pribadi rasul dan syariat. Karena dakwah merupakan ibadah, maka bukan hanya muatan dakwah yang harus diperhatikan namun juga pendekatan dan metodolongi yang digunakan. Hal ini perlu supaya tidak terjadi kontra produktif. Pemahaman yang benar dan utuh terhadap sunnah beliau saw. dalam berdakwah akan memberikan hasil yang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s