B.10. Cinta kepada Allah

B.10. Cinta kepada AllahCinta seseorang kepada sesuatu terjadi karena ada dorongan, baik positif maupun negatif. Namun yang jelas ada hal menarik, menyenangkan, dan memberi harapan di balik cinta itu. Melihat sifatnya, secara umum dorongan cinta itu terbagi menjadi dua yaitu: cinta syar’i yang lahir karena iman dan cinta yang tidak syar’i yang lahir karena nafsu. Islam memandang bahwa nafsu itu sifatnya fithri, sehingga Islam tidak mematikan atau mengebirinya. Mengapa? Sebab, dorongan cinta tersebut dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif dan produktif apabila dikendalikan dengan arif. Kaidah-kaidah syar’ilah yang berfungsi sebagai pagar untuk membimbing dan mengendalikan nafsu supaya tidak melewati batas-batas Allah. Sinergi yang baik antara iman dan nafsu akan menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Sebaliknya, bila tidak dikendalikan ia akan mendatangkan bencana dan petaka di dunia dan akhirat pula.

Tanda cinta

Cinta kepada apa pun, baik kepada sesuatu yang bersifat syar’i maupun yang tidak syar’i, akan menunjukkan tanda-tanda yang dapat kita tengarai dengan jelas. Di antaranya adalah: banyak mengingat/ menyebut, kagum, ridha, berkorban, cemas, berharap, dan taat.

1. Banyak menyebut

Karena Allah adalah yang paling pantas untuk diharap dan ditakuti maka sudah seharusnya apabila Dia paling sering diingat-ingat dan disebut-sebut. Sebab, banyak mengingat dan menyebut Allah merupakan salah satu sebab kemenangan.

“Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banayaknya agar kamu mendapat kemenangan.” (Al-Anfal: 45)

2. Kagum

Karena keindahan, kebesaran, kekuasaan, dan sisi-sisi kesempurnaan lainnya, orang akan mengagumi pihak yang dicintainya. Allah-lah yang memiliki segala sifat kesempurnaan karena itu, Allah pula yang paling berhak untuk mendapat segala bentuk pengagungan. Segala puji bagi Allah, bagaimana-pun kondisi yang dialami dan apa pun yang terjadi.

3. Ridha

Cinta menyebabkan orang rela terhadap apa saja yang dilakukan oleh kekasihnya. Apa pun yang dilakukan kekasihnya, menurut pandangannya selalu baik, meskipun kadangmenimbulkan kerugian fisik/materi pada dirinya. Baginya, merupakan keberuntungan dan kemenangan apabila kekasihnya ridha kepadanya, meskipun ia harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya.

4. Berkorban

Bagi orang yang cinta, kebahagiaan bahkan merupakan puncak kebahagia-annya adalah apabila ia telah berkorban demi cintanya. Semakin besar cintanya; semakin besar pengorbanan yang dilakukan; semakin besar cinta yang didapatkan dari kekasihnya; semakin besarlah kebahagiaannya.

5. Cemas

Dalam waktu yang sama ia cemas bila cinta tidak terbalas. Perasaan ini mendorongnya untuk selalu berusaha maksimal mencari ridha kekasihnya. Apa pun dilakukan untuk mengobati kecemasannya.

6. Berharap

la tidak pernah berputus asa andai apa yang ia harapkan dari kekasihnya belum juga didapat, sebab memang tidak ada harapan lain baginya. Harapan kepada Allah irulah yang menggerakkan dan mengarahkan langkah kehidupan seseorang.

7. Taat

Karena selalu banyak mengingat, selalu kagum, senantiasa ridha, rela ber-korban, selalu cemas dan berharap, maka ia selalu mentaati semua perintah dan menjauhi segala larangan Allah.

Semua perasaan di atas berpadu jadi satu dalam cinta. Cinta yang terbesar dan paling utama diberikan kepada Allah. Sedangkan cinta kepada yang lain harus dalam kerangka cinta-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s