B.8. Hidup Di Bawah Naungan Tauhid

B.8. Hidup di bawah Naungan Tauhid

Setiap insan mendambakan kehidupan yang baik, penuh kebahagiaan, bebas dari rasa takut, dan memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi tidak semua orang dapat merasakan kehidupan yang demikian. Banyak orang yang selalu dihantui rasa takut dan kecemasan luar biasa, mereka merasa tidak ada yang menjamin kehidupannya. Ada di antara mereka yang mendapat jaminan akan tetapi harus mengorbankan sebagian dari kebahagiaannya. Ia selalu terombang-ambing dalam keraguan karena harapannya ada pada lebih dari satu pihak yang ia takuti. Bila menyenangkan yang satu, yang lain marah; mendapat jaminan dari yang satu namun yang lain mengancam. Ini terjadi apabila orang memiliki lebih dari satu tuhan. Dua kondisi digambarkan Al-Qur’an seperti seorang budak yang menjadi milik satu tuan dan budak lain yang menjadi milik lebih dari satu tuan, yang mana masing-masing tuan menuntut loyalitas darinya.

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang budak yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat namun mereka saling berselisih dan seorang budak yang menjadi milik penuh seorang tuan. Adakah kedua budak itu sama halnya?” (Terjemah Q.S. Az-Zumar : 29)

Kehidupan yang baik hanya akan didapatkan apabila orang hanya ber-wala’ kepada satu tuhan yang Maha Sempurna yaitu Allah. Aqidahnya tentang Dzat Allah, sifat-sifat, nama-nama (asma), dan perbuatan-Nya harus benar-benar sesuai prinsip-prinsip tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah saw., yaitu mentauhidkan Allah dalam hal:

1. Asma dan sifat

Dalam hal asma dan sifat ia yakin bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat sempurna, tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Asma Allah lebih dari yang kita ketahui karena Allah masih merahasiakan nama-nama-Nya sebagaimana dikatakan Rasulullah saw. Dalam doa,

“…aku mohon dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau gunakan untuk menamai diri-Mu sendiri, atau yang Kau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau Kau turunkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu…”

2. Rububiyah

Ia yakin bahwa Allah adalah Tuhan yang mencipkan dirinya, menciptakan alam semesta serta segala yang ada di langit dan di bumi sebagai fasilitas hidup. Allah swt. Tundukkan seluruh alam beserta seisinya untuk jaminan kehidupannya, memberi rezeki tiada habis-habisnya, memelihara, dan melindungi keselamatannya.

3. Mulkiyah

Ia yakin bahwa Allah adalah Yang Menguasai seluruh kerajaan langit dan bumi. Allah adalah Pemilik dari segala kerajaan.

Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan engkau hinakan siapa saja yang Engkau kehendaki. Di tangan Allah-lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (terjemah Q.S. Ali Imran: 26)

4. Uluhiyah

Bahwa karena sifat-sifat kesempurnaan-Nya itu, Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah.

Dengan demikian, ketika mengikrarkan Laa ilaaha illallah seseorang yakin seyakin-yakinnya bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada yang dicintai dan dituju selain Allah; Raja Yang ditaadi dan disembah.

Bila demikian yang diyakini seseorang, pada saat itulah ia merasakan kehidupan yang baik yang Allah janjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s