B.6. Memurnikan Ibadah

B.6. Memurnikan Ibadah

Tauhid ibadah adalah mengeskan Allah dalam ibadah (penghambaan). Tauhid ibadah akan terjadi apabila tauhidullah telah tercapai sepagaimana kita pahami dalam materi Pengesaan Allah. Meng-Esa-kan Allah (B.5) dengan konsepsi seperti itu disebut juga al-ikhlash yang berarti pemurnian. Tauhidul ibadah adalah ikhlasul ibadah (memurnikan ibadah) hanya untuk Allah saja. Pengesaan Allah dan ikhlasul ibadah hanya akan tercapai dan benar apabila memenuhi konsekuensi kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” yaitu menolak segala bentuk ilah dan hanya mengakui Allah sebagai satu-satunya ilah, tiada sekutu bagi-Nyua. Karena itu, tauhidullah dan ikhlasul ibadah baru akan tercapai apabila dilakukan dengan dua sayapnya yaitu:

A. Menolak Thaghut

Kata thaghut diambil dari thagha yang berarti melampaui batas. Menurut Ibnu Taimiyah, thaghut adalah segala sesuatu yang disikapi sebagaimana sikapnya kepada Allah, baik berupa jin, manusia, maupun makhluk lainnya. Demikian itu karena sesungguhnya yang berhak mendapatkan peribadatan hanyalah Allah. Ketika ada dzat lain yang mendapat perlakuan sebagaimana Tuhan atas permintaanya atau diperlakukan oleh pihak lain padahal ia tidak pantas mendapat perlakuan demikian, maka itulah perlakuan yang melampaui batas hingga ia disebut thaghut.

Untuk menjamin kemurnian tauhid dan ibadah, penolakan terhadap thaghut harus dilakukan secara preventif-antisipatif sehingga setiap muslim diperintahkan untuk menjauhi thaghut agar tidak terlibat dalam kemusyrikan, betapa pun kecil dan samar. Di antara karakteristik orang yang bertaqwa adalah menjauhi thaghut.

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut agar tidak menyembahnya.” (Az-Zumar: 17)

Rasulullah saw. Mengatakan bahwa kemusryrikan itu lebih tersembunyi dibanding bekas tapak kaki seekor semut hitam di atas batu karang di kegelapan malam. (HR. Ahmad)

B. Iman kepada Allah

Di atas penolakannya terhadap thaghut itu, manusia harus membangun imannya kepada Allah. Demikian itu karena apabila ia hanya menolak tuhan-tuhan tapi tidak percaya kepada Tuhan yang satu, pada saat itu ia disebut atheis. Saat itu ia telah mempertuhankan dirinya sendiri, berarti ia telah thagha (melampaui batas) dan inilah yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an,

Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, ia memandang dirinya serba cukup.” (Al-‘Alaq: 6-7)

Imannya yang hanya diberikan kepada Allah itu harus diwujudkan dalam bentuk ibadah (penghambaan) dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Misi pembebasan manusia dari penghambaan atas sesama (makhluk) kepada penghambaan kepada Pencipta makhluk inilah yang dibawa oleh para nabi dan rasul.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang rasul (agar mereka menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (An-Nahl: 36)

Dengan dua sayap tauhid inilah, pemurnian ibadah hanya kepada Allah dapat dicapai, dengannya pula seseorang disebut telah berpegang pada tali yang kokoh.

Barangsiapa kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah berarti ia telah berpegang kepada tali yang kokoh. (Al-Baqarah: 256)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s