B.4. Bukti Keberadaan Allah

B.4. Bukti Keberadaan Allah

Keberadaan Allah, Tuhan yang telah menciptakan dan memelihara alam semesta dengan kekuasan dan kasih sayang-Nya adalah hal yang tak terbantahkan. Hal itu didasarkan pada banyak dalil yang kuat dan bukti yang nyata, di antaranya:

1. Bukti Fitrah

Fitrah adalah sifat azasi (dasar yang masih murni) yang belum terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal. Kalau manusia dibiarkan dalam fitrahnya tentu ia akan mengakui adanya Dzat Mahahebat yang telah memberinya rezeki, menghidupkan, dan mematikannya. Demikian itu karena manusia diciptakan di atas fitrah itu.

2. Bukti Inderawi

Indera kita dapat menangkap bukti-bukti keberadaan-Nya dengan melihat, mendengar, merasakan, atau menyentuhnya. Berbagai objek dan peristiwa yang ada di sekitar kita menunjukkan keberadaan-Nya itu. Ada yang lahir ada pula yang mati; ada laki-laki ada perempuan; ada yang sehat ada pula yang sakit; ada yang baik dan menyenangkan, namun ada pula yang buruk dan menyebalkan; ada yang besar ada yang kecil; ada kikir dan sombong, namun ada pula yang dermawan dan rendah hati; ada yang mampu ada pula yang tidak mampu; dan sebagainya. Itulah bukti inderawi yang nyata. Mengapa manusia tidak dapat melahirkan anak dengan sifat-sifat sempurna sebagaimana yang ia inginkan?

3. Bukti Rasional

Bukti Rasional dapat kita analisa dengan teori sebab-akibat. Segala yang terjadi pasti ada penyebabnya; namun logika akan mengatakan bahwa pasti ada penyebab pertama dan utama yang memulai sebab-sebab itu, yang ada tanpa disebabkan oleh sesuatu yang lain. Yang demikian itulah Allah: Al-Ahad, Al-Awal, As-Shamad, lam yalid walam yulad.

4. Bukti Nash

Banyak ayat-ayat suci Al-Qur’an dan kitab-kitab suci sebelumnya yang membicarakan tentang Allah dengan berbagai sifat-Nya. Demikian pula hadits-hadits yang ada dalam sunnah Nabi-Nya

5. Bukti Sejarah

Banyak peristiwa bersejarah di masa lampau semenjak Nabi Adam as. Hingga hari ini yang menunjukka keberadaan, keagungan, dan kekuasaan Allah. Banyak peninggalan bersejarah yang menunjukkan kejayaan bangsa-bangsa di masa lampau. Berbagai bukti sejarah tersebut memberikan pelajaran sangat berharga kepada manusia yang hidup di masa kini bahwa segala bentuk kebesaran dan keangkuhan mereka tidak kuasa menghadapi kekuasaan Allah. Kebesaran manusia sangat tidak ada artinya untuk dibandingkan dengan keagungan Allah

Kalau manusia mempelajari dan memahami dalil-dalil dan dan bukti-bukti tersebut di atas, hati nurani mereka yang bersih akan mengakui keagungan Allah yang telah menciptakan dan mengaturnya sedemikian rupa. Pengakuan ini dalam Islam disebut sebagai tauhid rububiyah. Pengakuan akan rububiyatullah ini menuntut komitmen dari manusia untuk mentauhidkan (mengesakan) -Nya dalam uluhiyah.

Islam mengajarkan bahwa Dzat yang kita agungkan itu adalah Dzat yang telah menciptakannya, memberinya rezeki, memeliharanya dan memilikinya. Oleh sebab itu Allah pulalah yang berhak untuk mendapatkkan perlakuan sebagai Tuhan yang dicintai, ditakuti, dirindukan, diikuti, ditaati, dan disembah. Islam tidak membedakan antara Tuhan yang telah menciptakan, melindungi, dan memiliki itu dengan Tuhan yang dicintai, diikuti, ditaati, dan disembah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s