B.3. Penghalang Ma’rifatullah

B.3. Penghalang Ma'rifatullah

Apabila seorang hamba telah bertekad untuk mengenal Allah, mendekat kepada-Nya dan mengikuti kehendak-Nya, pasti ia akan dihadang oleh berbagai godaan dan tipu daya. Sudah menjadi sunatullah, di awal perjalanan seorang hamba, ia akan menghadapi berbaggai tipuan kesenangan, kelezatan, kepemimpinan, kedudukan, pakaian, perkawinan, keluarga, dan sejenisnya.

Dilihat dari sumber dan penyebabnya, penghalang-penghalang itu ada dua macam yaitu penyakit syahwah (berkaitan dengan hati; berupa nafsu dan kesenangan) dan penyakit syubhat (berbagai hal yang menimbulkan keraguan, lebih banyak berkaitan dengan masalah akal dan logika).

1. Yang termasuk penyakit syahwah di antaranya :

a. Al-fisqu (kefasikan)

Lawan dari al-fisqu adalah al-‘adalatu, keduanya berkaitan dengan kredibilitas moral. Orang yang adil adalah orang yang tidak tercela, sedang orang fasik adalah orang yang ternoda kehormatan dan kredibilitasnya akibat kesalahan yang ia lakukan.

b. Al-kibru (kesombongan)

Suatu ketika, seorang sahabat yang suka pakaian dan sandal bagus menanyakan tentang dirinya apakah termasuk sombong atau tidak, Rasulullah saw. Menjawab bahwa sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

c. Azh-zhulmu (kezaliman)

Azh-zhulmu adalah sikap melampaui batas atau menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Al-Qur’an menyebut kemusyrikan sebagai kezaliman yang besar karena orang yang musyrik menempatkan makhluk sejajar dengan Allah sebagaimana disebutkan dalam surah Luqman: 13.

d. Al-kadzibu (dusta)

Dikatakan oleh Rasulullah saw. Bahwa dusta mengantarkan seseorang pada dosa, sedangkan dosa akan mengantarkannya ke neraka.

e. Al-ma’ashi (kemaksiatan)

Lawan kemaksiatan adalah ketaatan. Kefasikan, kesombongan, kezaliman dan dusta termasuk bentuk kemaksiatan.

Penyakit-penyakit hati ini akan mengundang kemurkaan Allah. Namun, bagaimanapun juga Allah akan mengampuni dosanya selama matahari belum terbit dari sebelah barat. Allah swt. Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Efektivitas terapi terhadap penyakit-penyakit hati ini lebih banyak ditentukan oleh pelakunya sendiri. Ia harus bersungguh-sungguh memerangi nafsunya.

Orang pandai adalah orang yang selalu mengkoreksi dirinya dan beramal untuk hari sesudah kematiannya.” (HR. Turmudzi).

2. Yang termasuk penyakit syubhat adalah :

a. Al-jahlu (kebodohan)

Islam menjunjung tinggi ilmu dan orang yang berilmu (ulama), bahkan wahyu yang pertama kali turun adalah perintah untuk mencari ilmu (membaca).

b. Al-irtiyah (keragu-raguan)

Penyakit ini terindikasikan dengan identitas dan kepribadian yang tidak jelas. Rasulullah berpesan agar kita meninggalkan yang ragu-ragu dan beralih pada yang tidak meragukan.

c. Alinhiraf (penyimpangan)

Penyimpangan dapat berawal dari kesengajaan atau ketidaksengajaan. Akibat tidak tahu orang akan menyimpang dari jalan yang benar, hal ini dapat berlanjut pada kesengajaan untuk menyimpang.

d. Al-ghaflah (lalai)

Kenikmatan sering membuat seseorang lalai. Akibatnya ia tidak tahu arah, akhirnya ia akan mengalami kebimbangan dalam hidupnya.

Penyakit-penyakit intelektual bermula dari ketidaktahuan (kebodohan). Akibatnya, penyakit akan menjalar pada seluruh sendi-sendi kehidupan. Karena itu penyembuhannya adalah dengan menghilangkan penyakit utama yaitu menghilangkan kebodohan dengan ilmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s