B.2. Cara Mengenal Allah

B.2. Cara Mengenal Allah

 Apabila dampak positif ma’rifatullah diketahui, pastilah orang-orang akan berlomba-lomba mengenal Allah lebih jauh. Demikian pula bagi orang-orang beriman, semangatnya untuk meningkatkan ma’rifah akan semakin menyalan. Akan tetapi karena Allah itu bersifat ghaib dan tidak terjangkau oleh indera kita, upaya untuk lebih jauh mengenal-Nya tidak dapat dilakukan hanya mengandalkan pengamatan inderawi. Karena keghaiban, kesempurnan, dan keagungan-Nya itulah, kita hanya dapat mengenali melalui ayat-ayat-Nya. Ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah secara global dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu ayatul qauliyah (ucapan) berupa firman-firman-Nya dalam kitab suci yang diwahyukan kepada para nabi dan rasul, serta ayatul kauniyah (kealaman) berupa tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tersebut di alam semesta.

Metode Islam

Islam memadukan ayatul qauliyah dan ayatul kauniyah dalam mengenali Allah. Demikian itu karena tidak ada yang mengetahui hal-hal ghaib kecuali Allah. Jangankan tentang Allah, hal-hal ghaib yang ada pada dirinya saja manusia tidak dapat mengenali dengan baik. Kerendahan hati mengakui keterbatasannya itulah yang mengantarkan seseorang untuk berislam sehingga ia merujuk kepada dalil-dalil naqli (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dalam mengenali Allah.

Dalil-dalil naqli memberikan informasi lebih lengkap dan akurat tentang hal-hal yang hanya diketahui oleh Yang Mahaghaib, sedang dalil-dalil aqli digunakan untuk memperkuat penemuan dan pemahaman. Dalil-dalil naqli memberikan bimbingan kepadanya bagaimana mempergunakan kemampuan akal secara baik, efisien, dan efektif sehingga tidak menghabiskas waktu dan energi untuk hal-hal yang tak terjangkau oleh akal. Rasulullah saw. bersabda,

Berpikirlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir tentang dzat Allah karena akal akal kalian tidak akan dapat menjangkau-Nya.”

Sinergi harmonis ayat naqli dan ayat aqli mengantarkan seorang muslim untuk membenarkan dan mempercayai Allah serta memantapkan keimanan kepada-Nya.

Metode Jahiliyah

Berbeda dengan metode Islam, metode jahiliyah berangkat dari zhon atau prasangka yang seringkali berujung pada nafsu (kepentingan). Metode jahiliyah mensikapi ayat-ayat qauliyah dengan kesimpulan yang sesat, mereka beranggapan bahwa ayat-ayat qauliyah hanya akan akan membelenggu kebebasan berpikirnya. Namun perlu dipertanyakan sekali lagi, benarkah mereka memberikan kebebasan penuh kepada akal ataukah justru sebenarnya mereka membelenggunya dengan nafsu dan kepentingan, sebab sebenarnya tidak ada kontradiksi antara akal dan naql. Kepentingan apa yang mendorong mereka untuk memberikan kebebasan mutlak kepada akal? Di sinilah kaum rasionalis tersesat. Mereka enggan mempertuhankan sesembahan yang menurut anggapannya hanya membelenggu kebebasan akal. Namun pada waktu bersamaan, mereka telah terperosok mempertuhankan akal itu sendiri, disadari atau tidak disadari. Sebagian mereka bangga disebut telah mempertuhankan (mendewakan) akal, sebagian yang lain tidak tidak rela dikatakan telah mempertuhankan akal –sementara ia tidak menerima dalil naqli yang tidak dapat dicerna akalnya, kepentingan apa lagi yang menghalanginya untuk menerima dalil naqli tersebut. Metode jahiliyah yang berangkat dari prasangka dan kepentingan nafsu ini hanya akan menimbulkan keraguan dan kebimbangan. Semakin jauh ia menyelami, semakin besar keraguan yang didapat. Akhirnya, ia kufur kepada Allah dan menolak aturan-Nya.

One thought on “B.2. Cara Mengenal Allah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s