B.1. Urgensi Mengenal Allah

B.1. Urgensi Mengenal Allah

Allah sudah kita sebut berkali-kali dalam pembahasan tentang syahadatain. Bahkan kata-kata ini sudah demikian akrab dengan telinga dan lidah kita. Akan tetapi pernahkah kita mengukur sejauh mana pengenalan kita kepada-Nya? Cukupkah mengenalnya dengan mengetahui dan menghafal nama-nama dan sifat-sifat-Nya di luar kepala? Mengetahui dan menghafalnya merupakan sebagian dari pengenalan kita kepada Allah akan tetapi ada yang lebih penting yaitu bagaimana sikap kita selanjutnya. Pengenalan yang sesungguhnya adalah apabila pengetahuan kita tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah itu kemudian dibarengi dengan pensikapan yang benar dan proposional. Ma’rifah yang benar sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnu Qoyyim ra. Dalam Al-Fawaid adalah pengenalan yang dapat menimbulkan perasaan malu, kecintaan, keterikatan hati, kerinduan, taubat, kedekatan, dan hanya berharap kepada-Nya. Ketika ada orang bergegas menyambut saat mendengar panggilan-Nya. Ketika ada orang bergegas menyambut saat mendengar panggilan-Nya, dapat dipastikan bahwa ia mengenal Allah dengan baik. Demikian itu karena dengan menyambut panggilan-Nya ia dapat berdialog dengan-Nya, mengadukan persoalan-persoalan yang dihadapi, lalu memohon pertolongan-Nya hingga setelah itu ia mendapatkan pencerahan. Para salafus shalih dahulu selalu berupaya mengenal Allah secara lebih dalam dan meningkatkan pengenalan mereka kepada-Nya dengan berbagai cara. Hal itu mereka lakukan karena mereka merasa bahwa semakin dikaji dan dikenali, semakin banyak keagungan Allah yang tersingkap, semakin besar cinta dirasakan, semakin besar harapan kepada-Nya, semakin besar rasa takut kepada-Nya. Seseorang yang merasa cukup dengan makrifah yang dicapainya maka sebatas itulah yang ia gapai, padahal problematika hidup seringkali menurunkan makrifah tersebut.

Mengenal Allah menjadi sangat urgen bagi seorang hamba karena berbagai alasan:

  1. Karena yang akan kita kenali adalah Pencipta semesta alam yang telah menguasai manusia dan menyiapkan untuknya segala kebutuhan di langit dan di bumi; menciptakan malaikat –di antaranya adalah malaikat penjaga yang selalu setia menjalankan tugas melindungi manusia; menciptakan hewan, tumbuhan, dan makhluk-makhluk lain yang kesemuanya ditundukkan untuk manusia; serta yang mendengar pengaduan hamba-Nya saat ia menghadapi kesulitan lalu menyelesaikan persoalannya dengan arif dan bijaksana. Dzat seperti itulah yang menjadi tema sentral dalam pembahasan ini.

  2. Berbagai dalil (baik dalil fitri, naqli, maupun aqli) telah membuktikan keberadaan, sifat-sifat, dan nama-nama-Nya, secara jelas dan tak terbantahkan.

  3. Manfaat dan pengaruhnya yang sangat besar yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Pengaruh ini akan terasakan dalam diri insan beriman di dunia:

a. Kemerdekaan yang sebenarnya. Jiwanya senantiasa hanya berharap dan takut kepada Allah sehingga tidak ada yang dapat menguasainya.

b. Ketenteraman yang sejati. Seorang mukmin akan selalu yakin bahwa Allah telah menjamin kehidupannya dan melindungi keselamatannya.

c. Keberkahan dari Allah. Setiap amalnya senantiasa diridhoi, didekatkan, dan dicintai Allah.

d. Kehidupann yang baik. Allah selalu membimbing langkah-langkahnya dalam mencapai kebaikan.

e. (Di akhirat) ia akan mendapatkan surga dan syafaat dan keridhaan Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s