featured-syarat diterimanya syahadat

SYARAT DITERIMANYA SYAHADAT

Sebagai seorang mukmin yang telah mengucapkan syahadat dan memahaminya hendaklah berusaha menjaga syahadat yang ia yakini itu dari penyakit futur atau kendor dan lemahnya keimanan. Untuk itu seorang muslim perlu mengetahui bagaimana syahadat yang ia ucapkan itu diterima atau ditolak. Untuk diterimanya syahadat maka diperlukan beberapa persediaan yaitu berupa ilmu, yakin, ikhlas, shidqu atau kebenaran, mahabbah atau kecintaan, qabul atau penerimaan dan amal nyata. Juga kita perlu menolak beberapa hal berikut, yaitu berupa kebodohan terhadap syahadat, keraguan, kemusyrikan, dusta, kebencian, penolakan dan tidak beramal. Berikut akan kami jelaskan satu persatu:

A. Al-’Ilm Al-Munaafii Lil-Jahl (Ilmu yang menolak kebodohan)

Seorang yang bersyahadat mesti memiliki pengetahuan tentang syahadatnya. Apa yang melandasainya sehingga bersyahadat, ia memiliki ilmu dan pemahaman dengan syahadat, sehingga ketika mengikrarkan syahadat ia memahami arti dua kalimat ini serta bersedia menerima hasil ucapannya.

Orang yang bodoh tentang makna dua kalimat syahadat tidak mungkin dapat mengamalkannya. Manusia berkewajiban mempelajari laa ilaaha illa Allah, karena kunci mendapat rahmat dari Allah dan mendapatkan banyak kebaikan. Mereka yang bersyahadat adalah Allah SWT, malaikat, dan orang-orang yang berilmu (para nabi dan orang beriman). Sebagaimana Allah menjelaskannya di dalam Al-Quran: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS 47:19)

B. Al-Yaqiin Al-Munaafii Lisy-Syak (Yakin yang Menolak Keraguan)

Seorang yang bersyahadat mesti meyakini ucapannya sebagai suatu yang diimaninya dengan sepenuh hati tanpa keraguan. Keyakinan akan membawa seseorang pada keistiqamahan, manakala ragu-ragu akan menimbulkan kemunafiqan. Iman yang benar ia tidak bercampur dengan keraguan. Karena mereka meyakini sepenuhnya ke-esahan Allah, janjinya yang akan mereka dapatkan dari Allah jika mereka melaksanakan tuntutan syahadat itu. Mereka tidak ragu untuk mengorbankan semua harta dan jiwanya untuk kepentingan perjuangan Islam. Dan di antara ciri mukmin adalah tidak ragu dengan Kitabullah dan yakin terhadap Hari Akhir.

Di dalam Al Quran dijelaskan : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS 49:15)

Dalam sebuah hadist Dari Abu Hurairah ra Rasulullah SAW bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada seorang hamba yang bertemu dengan Allah dengan dua kalimat ini dan ia tidak ragu tentang kedua-duanya, kecuali ia masuk surga.” (HR Muslim).

C. Al-Ikhlaash Al-Munaafii Lisy-Syirk (Ikhlas yang Menolak Kemusyrikan)

Ucapan syahadat mesti diiringi niat yang ikhlas lillahi ta’ala. Ucapan syahadat yang bercampur dengan riya’ atau kecenderungan tertentu tidak akan diterima Allah SWT. Ikhlas dalam bersyahadat merupakan dasar yang paling kukuh dalam pelaksanaan syahadat. Perbuatan apapun yang mengandung kemusyrikan akan menghapus amal. Oleh karena itu amat merugi bagi manusia yang beramal tapi tidak ikhlas sehingga amalnya menjadi sia-sia tanpa makna. Ibadah yang tidak ikhlas tidak diterima oleh Allah SWT. Tidak ikhlas berarti juga menjadikan tandingan-tandingan selain Allah sebagai tuhannya. Allah berfirman : “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS 18:110)

Dalam hadits Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah secara tulus ikhlas dari hatinya, atau dari jiwanya.”

D. Ash-Shidq Al-Munaafii Lil-Kadzib (Kebenaran yang Menolak Kedustaan)

Dalam pernyataan syahadat, seorang muslim wajib membenarkannya tanpa dicampuri sedikitpun dusta dan kebohongan. Pembenaran atas syahadat adalah landasan keimanan, sedangkan dusta adalah landasan kekufuran. Sikap sidik akan menimbulkan ketaatan dan amanah. Sedangkan dusta menimbulkan kemaksiatan dan pengkhianatan. Kebenaran yang diamalkan seseorang akan mempengaruhi tingkah laku dan pemikirannya. Mereka bertingkah laku dan berfikir dengan benar apabila bersikap sidiq.

Orang yang benar akan terbukti dalam medan jihad dan Allah SWT membalas mereka, sedangkan orang-orang munafik tidak saja mendustakan manusia tetapi juga berani berdusta kepada Allah. Kebenaran dan kemunafikan diuji melalui cobaan. Cobaan akan menjadi seleksi bagi seseorang. Sejarah menunjukkan bahwa cobaan merupakan cara untuk mengetahui siapa yang betul-betul berjuang di jalan Allah atau tidak sungguh-sungguh berjuang. Allah berfirman : “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Alla penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih; disebabkan mereka berdusta. (QS 2:8-10)

E. Al-Mahabbah Al-Munaafiyah Lil-Bughdh Wa Al-Karaahah (Cinta yang Menolak Kebencian)

Dalam menyatakan syahadat ia mendasarkan pernyataannya dengan cinta. Cinta ialah rasa suka yang melapangkan dada. Ia merupakan ruh dari ibadah. Sedangkan syahadatain merupakan ibadah yang paling utama. Dengan rasa cinta ini segala beban akan terasa ringan, tuntutan syahadatain akan dapat dilaksanakan dengan mudah. Cinta kepada Allah SWT yang teramat sangat merupakan sifat utama orang beriman. Mereka juga membenci apa saja yang dibenci oleh Allah SWT. Seorang mukmin akan selalu mendahulukan kecintaan kepada Allah SWT, Rasul dan jihad dari kecintaan terhadap yang lain.

Allah berfirman : Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS 9:24)

Dalam sebah hadits, Rosulullah bersabda: “Tiga hal, barangsiapa dalam dirinya ada ketiganya, maka ia mendapatkan manisnya iman. Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, bila seseorang mencintai orang lain dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan apabila ia tidak ingin kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan dirinya dari kekufuran itu sebagaimana ia tidak ingin dijebloskan ke dalam neraka.” (HR Bukhari)

F. Al-Qabuul Al-Munaafii Lir-Rad (Menerima yang Jauh dari Penolakan)

Seorang muslim secara mutlak menerima nilai-nilai serta kandungan isi syahadatain. Tidak ada keberatan dan tanpa rasa terpaksa sedikitpun. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali Kitabullah dan sunah Rasul. Ia senantiasa siap untuk mendengar, tunduk, patuh dan taat terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Mukmin adalah mereka yang bertahkim (berhukum) kepada Allah dan Rasul-Nya dalam seluruh persoalannya, kemudian ia menerima secara total keputusan Rasul, tanpa ragu-ragu dan keberatan sedikitpun. Ciri orang beriman ialah menerima, mendengar dan taat terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya dalam seluruh masalah hidup mereka. Sebagaimana Allah berfirman : Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS 24:51)

G. Al-Inqiyaad Al-Munaafii Lil-Imtina’ Wa At-Tark Wa ‘Adama Al-’Amal (Pelaksanaan yang Jauh dari Sikap Statik atau Diam)

Syahadatain hanya dapat dilaksanakan apabila diwujudkan dalam amal yang nyata. Maka muslim yang bersyahadat selalu siap melaksanakan ajaran Islam yang menjadi aplikasi syahadatain. Ia menentukan agar hukum dan undang-undang Allah SWT berlaku pada diri, keluarga maupun masyarakatnya. Perintah Allah SWT untuk bekerja di jalan-Nya dengan perhitungan nilai kerja itu di sisi Allah SWT. Orang yang bekerja akan mendapat kehidupan yang baik dan mendapat balasan surga Allah SWT.

Allah berfirman :”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (QS 16:9).

Sumber:

http://cahayamadinah.blogspot.com/2008/04/syarat-diterimanya-syahadat.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s