A.8. RIDHA (KERELAAN)

A.8. Ridha (Kerelaan)

Syahadat yang benar akan melahirkan kerelaan hati untuk menerima Allah sebagai tuhan. Keridhaan hati yang dimaksud meliputi kerelaan hati menerima apa yang Allah kehendaki pada makhluk-Nya –pada diri kita dan pada alam semesta– serta ridha menjalankan kewajiban yang berkenaan dengannya, beribadah semata-mata karena Allah swt.

1. Apa yang terjadi pada kita sudah ditentukan sejak masa azali dan sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Banyak di antaranya yang masih ghaib bagi kita namun telah tersurat dalam qadha dan qadar-Nya. Qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk, semua adalah kehendak-Nya. Hal-hal yang menurut pandangan dan perhitungan kita buruk, bisa jadi sebenarnya baik. Sebaliknua, sesuatu yang menurut pandangan kita baik boleh jadi sebenarnya tidak baik.

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal sesuatu itu amat baik bagimu. Boleh jadi pula engkau mencintai sesuatu padahal sesuatu itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Apa yang Allah perbuat, tidak sepatutnya dipertanyakan karena Ia Maha Mengetahui, Maha Adil, dan Maha Bijaksana. Semua yang diperbuat-Nya adalah untuk suatu hikmah yang sebagiannya dapat kita ketahui namun banyak di antaranya yang tidak kita ketahui. Apabila kita dapat mennyikapinya secara positif, semua akan jadi kebaikan.

Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Semua urusannya pasti menjadi baik. Hal seperti ini tidak terdapat pada diri seseorang kecuali pada diri orang beriman. Kalau mendapat kebaikan ia bersyukur sehingga dengan itu ia mendapat kebaikan. Namun kalau mendapat keburukan ia bersabar sehingga dengan itu ia akan mendapat kebaikan.” (HR. Muslim)

2. Allah menghendaki pada alam ini agar manusia menjadikannya sebagai media eksperimen dan tempat untuk mendapatkan pengalaman. Karena sesungguhnya segala yang terjadi pada alam ini berjalan sesuai dengan hukum (sunnatullah) yang telah ditentukan.

“Allah telah menciptakan segalanya dan Dia telah menentukan kadarnya masing-masing dengan sedemikian rupa.” (Al-Furqan: 2)

“Tiada satu daun pun yang jatuh kecuali diketahui-Nya, tidak jatuh satu biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula sesuatu yang basah maupun yang kering kecuali sudah tertera di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

Dengan memperhatikan sunnatullah yang ada di alam ini, maka manusia dapat melakukan pengembangan melalui penelitian untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi kepentingan ibadah dan pemakmuran bumi.

3. Syahadat juga menuntut konsekuensi agar kita rela menerima apa yang Allah kehendaki dari kita secara syar’i. Apa yang harus kita lakukan harus sesuai dengan syariat-Nya. Berkenaan dengan ketentuan-ketentuan syar’i inilah, manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Sikap yang diinginkan dari manusia dalam hal ini adalah taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kerelaan hati menerima apa saja yang Allah kehendaki pada diri kita, memahami apa yang Allah kehendaki pada alam semesta dengan penyikapan yang positif; dan melaksanakan apa yang Ia kehendaki dalam syari’at-Nya; itulah implementasi iman yang benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s