A.6. TAHAPAN INTERAKSI DENGAN SYAHADATAIN

A.6. Tahapan Interaksi dengan Syahadatain

1. Cinta

Karena Islam disampaikan dengan menggunakan pendekatan persuasif tanpa tekanan dan paksaan, juga didasarkan pada dalil-dalil yang tak terbantahkan, bukti-bukti nyata, serta argumentasi yang kuat, maka orang menerima agama ini dengan penuh kesadaran dan suka cita. Sebelum menyatakan keislamannya, terlebih dahulu seseorang diajak untuk mengenali sistem ini dengan seksama. Hendaknya ia juga mengenal baik siapa yang menyampaikan Islam kepadanya.

Islam disampaikan oleh seorang rasul yang sebelum kenabiannya telah dikenal sebagai orang yang memiliki kredibilitas yang sangat mulia di masyarakat. Demikian pula pada masa sekarang para da’i yang menyampaikan agama ini kepada masyarakat adalah orang-orang yang memiliki kredibilitas moral yang baik di lingkungannya. Kredibilitas yang baik yang dipadukan dengan metodologi penyampaian Islam yang didasarkan pada hujjah hasanah, pasti akan menumbuhkan rasa cinta dan kedamaian. Sasaran dakwah akan mencintai Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupannya; mencintai Allah yang telah menurunkan aturan yang menebarkan rahmat dan kedamaian tersebut; serta akan mencintai Rasul saw. Yang telah dengan tulus, amanah, dan penuh pengorbanan telah menyampaikan kepada mereka dengan sepenuh hati.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagai mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

2. Ridha

Cinta tulus suci yang didasarkan pada pengetahuan dan kesadaran penuh itu menjadikan dirinya ridha untuk menerima Allah sebagai tuhannya. Ia ridha untuk menghambakan diri kepada Tuhan yang telah menciptakannya, memberinya rezeki yang tiada putus-putusnya, melindunginya, dan memberinya rezeki yang tiada putus-putusnya, melindunginya, dan memberi apa saja yang ia minta dalam doanya. Ia ridha menerima Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupannya; ia tinggalkan sistem-sistem lain yang membelenggunya. Ia ridha menerima Muhammad bin Abdullah sebagai nabi dan rasul yang membimbingnya dalam beribadah kepada Allah dan mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan.

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab:21)

3. Shighah (celupan) Allah

Kecintaannya yang mendalam dan keridhaannya terhadap apa yang terkandung dalam syahadatain itu mampu mewarnai dirinya secara keseluruhan bagai celupan yang kuat. Syahadatain akan mencelup hati seseorang sehingga mewarnai keyakinannya dan meluruskan niatnya. Sebagai muslim ia menjadi orang yang memiliki aqidah yang sahih, mentauhidkan Allah dalam niat dan amal perbuatannya, hanya mengharap ridha-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Syahadat juga akan mewarnai akalnya sehingga pikiran dan konsep-konsep yang ditelurkannya merupakan ide, gagasan, pemikiran, dan konsep yang islami, dan bermanfaat bagi alam semesta. Di samping itu syahadatain juga mewarnainya secara jasadi sehingga penampilan dan amal perbuatannya merupakan wujud implementasi dari cinta, keridhaan, kepatuhan, dan ketaatannya kepada Allah, agama, dan rasul-Nya.

“Itulah celupan Allah. Siapakah yang lebih baik celupannya dibanding celupan Allah?” (Al Baqarah:138)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s