A.4. LOYALITAS DAN PENOLAKAN

A.4. Loyalitas dan Penolakan

Syahadat tauhid terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terdiri atas kalimat nafii(laa) yang berarti tidak dan manfi (ilah) yang dinafikan atau ditolak. Bagian kedua terdiri atas itshaat (illa) yang berarti kecuali yaitu untuk mengukuhkan danmutshat (Allah) yang dikecualikan atau dikukuhkan. Dengan demikian laa ilaaha illallah berarti menolak segala ilah berupa apa pun dan dalam wujud apa pun dan hanya mengakui satu ilah yaitu Allah. Bagian pertama syahadat tauhid merupakan penolakan terhadap segala bentuk ilah yang diwujudkan dengan mengkafiri, memusuhi, memisahkan diri, membenci, dan merobohkannya; sedangkan bagian kedua merupakan pengukuhan terhadap loyalitas kepada Allah yang diwujudkan dalam bentuk ketaatan, pembelaan, kedekatan, dan kecintaan kepada-Nya.

Keikhlasan ibadah dan pengabdian seorang hamba kepada Allah hanya akan sempurna bila ia menolak segala bentuk penghambaan kepada tuhan palsu dan hanya memberikan loyalitas penghambaan kepada Allah.

Dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam termasuk dalam hal wala’ wa bara’(loyalitas dan penolakan), seorang muslim tidak cukup dengan mengikhlaskan niatnya ke[pada Allah. Ia harus melakukan semua itu dengan kehendak Allah yang kemudian dituangkan dalam konsep yang diturunkan kepada Rasul-Nya, sebagai tuntunan dan panduan.

Syahadat rasul memberikan pengertian kepada muslim untuk mengakui Muhammad bid Abdullah sebagai rasul-Nya. Beliaulah yang menyampaikan minhajul wala’ wa bara’ dari Allah, mulai dari dasar-dasar fisiologis hingga teknis pelaksanaannya. Rasul saw. memberikan tuntunan, panduan, dan keteladanan. Kewajiban seorang mukmin adalah melaksanakan dan mempraktekkannya dalam kehidupan mereka sehar-hari. Syahadat tauhid mengikat seorang muslim untuk mengikhlaskan ibadahnya hanya kepada Allah; syahadat rasul mengikatnya untuk mengikuti tuntunan Rasul-Nya saw. dalam ibadah, baik yangmahdhah maupun ghairu mahdhah (dalam ibadah yang bersifat vertikal berupa-ritual-ritual peribadatan maupun ibadah horizontal dalam bermuamalah dengan sesama makhluk.

Tuntunan dan keteladanan semacam ini mutlak diperlukan. Tanpanya, implementasi wala’ wa bara’ yang lahir dari aqidah tauhid yang tak kenal kompromi terhadap tuhan selain Allah akan menjadikan seorang mukmin melampaui batas. Ia menjadi radikal dan ekslusif dalam berinteraksi dengan orang lain yang tidak satu aqidah dengannya. Padahal wala’ wa bara’ tidak harus diwujudkan dalam bentuk radikalisme dan eksklusivisme yang kadang justru kontra produktif terhadap dakwah itu sendiri.

Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa cara beragama yang paling dicintai Allah adalah Al-hanifiyatus sambah (kemurnian aqidah dan keluwesan dalam bermuamalah). Betapapun telah terjadi penolakan dan kebencian terhadap kemusyrikan dan permusuhan terhadap kaum musyrikin sejak mereka menyatakan syahadatain di Makkah, namun para shahabat baru diizinkan perang pada tahun kedua hijriyah, padahal banyak di antara mereka yang sudah mendesak untuk perang. Abu Dzar Al Ghifari misalnya, dengan sangat radikal memaksa untuk menyatakan syahadatain itu secara lantang dihadapan kaum musyrikin. Rasulullah saw. mencegahnya bahkan akhirnya beliau saw. menyuruhnya pulang kampung dan baru boleh menemui beliau saw. kelak setelah kaum muslimin mendapatkan kemapanan sosial politik. Patung dan berhala-berhala yang disembah kaum musyrikin dan dipasang di Ka’bah yang suci itu baru dihancurkan pada saat penaklukan (Fathu Makkah), sepuluh tahun setelah mereka hijrah ke Madinah. Bukan berarti mereka mentolerir keberhalaan, namun untuk wala’ wa bara’ pun harus didasarkan kepada sunnah yang dituntunkan Nabi saw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s