A.3. MAKNA “ILAH”

A.3. Makna “Ilah”

Yang membuat kaum musyrikin berat untuk mengucapkan syahadat adalah karena kesaksian atas Allah dan ilah yang lain. Makna ilah yang sebenarnya, dapat kita pahami dari akar kata yang membentuknya. Ilah terbentuk dari kata kerja aliha. Dalam bahasa Arab alihahu berarti:

  1. Merasa tenteram kepadanya sehingga ia asyik masyuk dengannya dan enggan meninggalkannya.

  2. Berlindung dengannya karena kagum kepada kekuatan, kehebatan, dan kekuasaannya.

  3. Rindu kepadanya karena keberadaannya memberikan rasa tenteram dan aman sehingga ia berusaha untuk selalu dekat dengannya.

  4. Sangat mencintainya dengan ketulusan hati karena tiga hal tersebut diatas.

Bila keempat hal ini diketahui, dirasakan, dan atau diyakini, maka ia akan:

  1. Menyembahnya dan siap mengorbankan apa saja karenanya, bahkan kalu perlu jiwa dan raganya pun dikorbankan demi cinta yang menenteramkan, melindungi, dan selalu ia rindukan itu.

Orang meng-ilah-kan (mempertuhankan) sesuatu karena ia merasa bahwa sesuatu itu sempurna, hebat, dan menentreamkannya karena memberikan jaminan dan perlindungan. Karena itu, ia merindukan dan mencintainya bahkan menyembahnya dengan segenap cinta, penuh kerendahan hati, dan segala ketundukan. Sesuatu yang mendapat perlakuan demikian selanjutnya disebut ilahyang dalam bahasa Indonesia disebut tuhan.

Di dunia ini banyak hal yang diperlakukan sebagai tuhan selain Allah atau bersama Allah meskipun sebenarnya secara objektif tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan sedikitpun. Demikian itu karena betapa hebatnya, pasti memiliki kekurangan dan keterbatasan. Pengalaman Ibrahim as. Saat mencari Tuhan sangat berharga bagi kita. Pada setiap benda yang beliau kagumi dan dia mengiranya sebagai tuhan, ternyata selalu ditemui kekurangan. Sehingga, akhirnya beliau mengambil kesimpulan bahwa semua itu bukan tuhan. Tuhan yang benar dan berhak mendapat perlakuan seperti di atas berdasar pengamatan dan pengalamannya adalah yang menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi.

Berangkat dari makna bahasa di atas, ilah adalah:

  1. Sesuatu yang diharapkan karena ia memiliki kekuasaan memberi manfaat dan mengabulkan permintaan orang yang berharap kepadanya.

  2. Sesuatu yang ditakuti karena ia akan murka dan menyiksa siapa yang membangkang perintahnya.

  3. Sesuatu yang diikuti karena petunjuknya adalah benar dan menjamin keselamatan.

  4. Sesuatu yang dicintai karena rahmat dan cintanya amat besar dicurahkan kepada hamba-hambanya, memberi tak pernah henti dan tiada habis-habisnya.

  5. Karena demikian itu maka ia adalah sesuatu yang disembah.

Karena sifat-sifat kesempurnaannya itu maka ia adalah sesuatu yang berhak mendapatkan loyalitas dan ketaatan, ia adalah pemegang kekuasaan. Islam memandang bahawa sesuatu yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan tersebut di atas hanyalah Allah swt. Memperlakukan selain Allah sebagaimana perlakuan yang diberikan kepada Allah yang telah menciptakan manusia sebagai Al-Khaliq. Apabila ada pihak lain yang diperlakukan demikian, itulah kesesatan yang nyata. Allah tidak menghendaki bila manusia mempertuhankan apa dan atau siapa pun selain-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s